Hidup Adalah Menanam dan Menuai

0
14
Chairman Logo Decorps, Andrio Suhendro (Istimewa)

Kata orang bijak, perjalanan hidup memengaruhi mimpi dan empati seseorang. Andrio Suhendro, chairman Logo Decorps, meyakini itu. Impitan kemiskinan telah menempanya menjadi seorang pebisnis yang tak pernah berhenti bermimpi. Kemiskinan pula yang membuatnya mudah berempati kepada orang lain.

“Dahulu, kami selalu berpikir bagaimana supaya bisa makan besok. Kemiskinan menuntut kami untuk terus berpikir,” ujar Andrio.

Lahir dan tumbuh di Gombong, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Andrio menjalani masa kanak-kanak hingga remaja dalam kemiskinan. Saat kanak-kanak, dia dipandang sebelah mata oleh teman-temannya. Bahkan, dia tidak diberi kesempatan mencium sabun mewah, yang dibawa temannya dari Jakarta.

“Kamu menciumnya dari jauh saja,” tutur Andrio menirukan ucapan sang teman.

Saat remaja, Andrio Suhendro merelakan sepeda kesayangannya diminta dan dijual oleh sang ibu. Andrio tak bisa berkata apa-apa saat ibunya bilang, uang sepeda dipakai untuk modal berjualan gorengan. Ya, Andrio adalah anak penjual gorengan. Namun, beberapa dekade kemudian, anak penjual gorengan itu menjelma menjadi orang sukses.

Kini, Andrio memiliki dan memimpin sebuah grup perusahaan fashion kelas nasional, Logo Decorps. Perusahaan ini membawahkan empat merek fashion terkemuka, yakni Logo, BombBoogie, Body Talk, dan Ninety Degrees. Keempat merek itu menyebar di lebih dari 700 gerai di seluruh Indonesia.

Bukan hanya matang di segmen busana kasual, merek yang dibesut Andrio juga berani bertarung dengan merek-merek asing. “Desain kami tidak kalah dari brand asing,” tegas Andrio.

Berpindah dari fase miskin ke pengusaha kaya dan sukses, bagi Andrio, bukanlah proses yang terlampaui dalam waktu cepat. Tidak ada yang instan dalam kisah sukses seseorang. Begitu pula Andrio.

Sebelum matang dan cemerlang di bisnis fashion, dia pernah menjalani fragmen kehidupan yang memilukan. Andrio pernah berbisnis beling rongsokan dan berdagang kaos dari toko ke toko. Fragmen ini, belum membawanya keluar dari fase kemiskinan. Andrio masih miskin.

Saat menikah pada 1978, kemiskinan masih membelitnya. “Waktu itu saya tinggal di rumah kontrakan. Saya ngontrak Rp 400.000 per tahun. Saya bayar dua tahun, Rp 800.000. Itu pun saya minta empat kali bayar. Lokasinya masuk gang kecil,” kisahnya.

Namun, Andrio bersyukur berada di fase itu. Sebab, fase inilah yang membakar semangatnya untuk sukses sebagai pengusaha. Paling tidak, ada dorongan kuat untuk segera keluar dari fase miskin. Berikut kisah hidup dan perjalanan bisnis Andrio yang dituturkan di Jakarta, baru-baru ini.

Bagaimana perjalanan bisnis Anda?
Sebuah perjalanan yang panjang. Kisah Logo Decorps dimulai sejak 1977. Saat itu, pada 1977-1979, saya berjualan kaos. Mengambil dari pabrik, kemudian dijual ke tokok-toko. Lalu pada 1980, saya membuat merek Logo untuk kaos dan t-shirt. Pada 1987, saya masuk ke Matahari Department Store Bandung, disusul gerai Matahari di kota-kota lain. Selanjutnya pada tahun 2000, saya berekspansi dengan meluncurkan jeans dengan merek sama, Logo.

Perjalanan terus berlanjut. Pada 2004, saya membangun showroom di pusat perbelanjaan di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Pada tahun yang sama, saya membuat merek Bomb Boogie yang membidik pasar pria dewasa. Selanjutnya, pada 2005, saya meluncurkan produk jin dan kemeja merek Ninety Degres yang menyasar kalangan remaja putri.

Lima tahun kemudian, pada 2010, saya membuat produk jin, kemeja, dan kaos untuk kalangan ibu muda, dengan merek Body Talk. Satu hal yang ingin saya tegaskan, saya mengawali usaha saya hanya dari satu mesin.

Kenapa memilih denim (jin)?
Dari dahulu, saya suka denim. Sejak SMA, saya sudah pakai blue jeans. Logo, pertamanya bukan jin, tapi t-shirt. Tahun 2000 baru kami mengeluarkan celana. Jadi, jin Logo itu baru 15 tahun. Kenapa saya orientasinya ke jin, karena semua orang memakainya.

Filosofi Anda dalam mengembangkan bisnis?
Kita harus punya satu inovasi dan optimisme. Ekonomi Indonesia saat ini dikatakan turun. Tetapi kalau saya bilang, sebagai warga negara Indonesia, saya optimistis, saya percaya semuanya akan berakhir dan membaik.

Kalau kita punya niat baik, hasilnya pasti bagus. Tapi kalau apa yang kita pikirkan jelek, hasilnya pasti jelek. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Saya percaya bahwa hidup adalah tebar-tuai.

Jadi, saya berpikir, kita harus selalalu optimistis dan positive thinking. Selain itu, selalu inovasi. Jangan berhenti tanpa adanya inovasi. Persaingan denim sangat ketat.

Apa mimpi Anda di bisnis denim?
Saya bermimpi Indonesia bisa menguasai pasar. Saya bermimpi setiap perempuan di Indonesia memiliki celana Logo satu, di lemari.

Strategi yang Anda terapkan?
Kami sekarang sudah memulai pemasaran online. Produk kami juga ada di Matahari Department Strore, Centro, Sogo, Yogya Department Store, Tiara Dewata Bali, Lombok. Kami juga memiliki beberapa showroom sendiri. Kurang lebih, kami memiliki 30 gerai showroom. Total store yang dimiliki sendiri dan konsinyasi dengan departemen store sebanyak 700 outlet. Itu untuk empat brand.

Tahun depan, kami mengembangkan konsep pengembangan store di area anak muda berkumpul. Dalam dua tahun setengah, akan ada 50 store yang menggunakan konsep baru.

Ada rencana ekspor atau ekspansi ke negara lain?
Pasar di Indonesia sangat luas. Orang-orang asing mau masuk ke Indonesia, kenapa kita malah keluar. Cobalah kita jago di Indonesia dulu.

Anda bermitra dengan industri rumahan. Apa pertimbangannya?
Benar. Kami bekerja sama dengan industri rumahan. Ada enam yang saya ajak kerja sama. Bukan hanya bekerja sama, tapi juga mengangkat mereka. Saya tanya ke pemilik industri rumahan, apakah mau menjadi tukang jahit atau jadi pengusaha? Mereka bilang mau menjadi pengusaha, lalu saya minta tolong bank untuk mendukung. Mereka yang tadinya tukang jahit rumahan, tahun ini dapat dukungan bank, sehingga bisa membangun usaha lebih besar.

Kita harus bagi-bagi keuntungan. Jangan serakah. Jangan semuanya kita ambil. Itulah kenapa saya melibatkan semua usaha kecil dan menengah (UKM). Dahulu, saya hidup susah. Saya ingin bantu mereka agar bisa enak. Kita lahir tidak membawa apa-apa, kita mati juga tidak membawa apa-apa. Maka, selama hidup, kita harus berbagi dan bisa membantu orang lain.

Bagaimana Logo menyesuaikan gaya hidup masyarakat yang terus berkembang?
Jangan hanya melihat umur dari segi angka. Jiwa harus muda terus. Jangan pernah merasa tua. Kalau kita merasa tua, ya benar-benar menjadi tua. Jangan cuma memikirkan hari ini, tapi lima sampai 10 tahun ke depan.

Dalam pandangan Anda, kenapa merek asing tumbuh subur di Indonesia?
Itu benar. Di beberapa mal ternama di Jakarta dan Bandung, merek lokal tidak boleh masuk. Outlet saya bahkan ada yang dipindah ke lantai lain karena berhadapan dengan merek asing. Kalau ingin fashion Indonesia bisa dinikmati semua orang, ya jangan ada pembatasan. Bagaimana Indonesia bisa menguasai pasar, kalau merek lokal susah masuk mal ternama.

Maraknya penggunaan merek asing akan membuat kelas ekonomi pemakai fashion terkotak-kotak?
Dalam sudut pandang saya sebagai pengusaha, itu adalah tantangan. Kita itu masyarakat ikut-ikutan. Tapi, lama kelamaan, mereka (konsumen) akan sadar sendiri. Saat ini, kita dalam masa pembelajaran. Mau berapa lama lagi merek-merek asing bertahan? Meski demikian, sebagai pengusaha lokal, adanya merek asing harus menjadi acuan. Kalau mereka bisa, kita harus lebih bisa. Kita kan yang tahu kultur bangsa kita sendiri. Itu tantangan sekaligus peluang. Saya yakin, saya bisa menjawab tantangan itu.

Filosofi hidup Anda?
Dahulu, bapak saya bilang, kalau kamu dicubit, sakit? Saya bilang, ya sakit. Maka, kata bapak saya, kamu jangan mencubit orang lain. Bapak saya juga bilang, kalau kamu menanam cabai, pasti tumbuhnya cabai. Setelah dewasa, saya baru paham. Kalau kita menanam kebaikan, pasti tumbuhnya kebaikan. Tapi kalau kita menanam kejahatan, pasti tumbuhnya kejahatan. Satu lagi, saya selalu diingatkan untuk terus memelihara mimpi.

Saya lahir dan tumbuh di tengah keluarga miskin, di Gombong, Jawa Tengah. Waktu masih kanak-kanak, saya ingat tetangga saya adalah orang berada. Orangtuanya baru pulang dari Hotel Indonesia. Pulangnya bawa sabun kecil. Tetangga saya memamerkan ke teman-temannya, termasuk saya. Semua mencium aromanya. Tapi, ketika giliran saya, dia bilang, kamu menciumnya dari jauh saja. Mungkin karena saya miskin, sampai tidak boleh mencium sabun mewah.

Sumber: Beritasatu.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here