Olah Koran Bekas, Risdiani Raup Omzet Rp400 Juta

0
300
Ilustrasi Koran Bekas

Harga koran bekas jika dijual hanya Rp2.000 per kg. Namun, di tangan Risdani Yasir, guru Madrasah Aliyah Negeri Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, benda kurang bernilai jual ini, harganya bisa naik 15 kali lipat setelah diolah menjadi bahan baku pernak-pernik cantik.

Kini produk buatan tangan Risdani itu telah menembus pasar Australia dan sekaligus memberdayakan penduduk Asahan dan beberapa kota di Indonesia.

Keputusan Risdani mengolah koran bekas ini melalui proses panjang sejak tahun 2009.

Awalnya ia ingin mendapatkan bahan baku yang mudah didapat dan diproses menjadi kerajinan tangan.

Mula-mula, ia mengolah eceng gondok, namun tumbuhan liar ini sudah jarang di kampungnya, Desa Kisaran, Asahan.

“Eceng gondok, bahan bakunya bagus, mudah dibentuk karena seratnya mudah dilusuhkan. Tapi, persoalannya, tidak banyak di Asahan. Masak saya harus mengimpor dari luar Asahan,” kata ayah empat anak ini lagi.

Tak mau berputus asa, ia pun menggunakan pelepah pisang.

Ternyata, setelah dicoba membutuhkan proses cukup panjang, karena harus direndam dan dikeringkan untuk menghilangkan getah dan kadar air.

“Sejak awal tujuan saya memberdayakan masyarakat sekitar, saya pikir jika lama begini, mereka pasti tidak tahan,” ujar pria kelahiran Desa Kisaran, Asahan, 1 Oktober 1973 ini pula.

Lantaran menemukan jalan buntu menggunakan bahan baku dari tumbuhan, akhirnya Risdani mencoba barang-barang bekas, seperti botol bekas, paralon, styrofoam, dan lainnya.

“Saya ingat betul, istri sempat marah-marah karena bawa-bawa sampah ke rumah,” kata Risdani yang diwawancarai dari Palembang, Rabu (11/11) lalu.

Dalam proses mencari bahan baku itu, akhirnya perhatian Risdani tertuju pada koran bekas yang menumpuk di kediamannya.

Setelah dicoba, ternyata tekstur koran ini mudah dilusuhkan dan dibentuk, sehingga dapat memenuhi keinginannya untuk membuat pernak-pernik perabotan rumah tangga.

Beragam produk mulai diciptakan, seperti guci, sendok, panci, cangkir, teko, dan lainnya.

Tak puas sebatas memanfaatkannya sendiri, ia pun mengajarkannya kepada anak didiknya di MAN Asahan pada tahun yang sama.

Hasilnya cukup mengejutkan, beragam produk unik dan cantik buah karya anak asuhnya mulai dicari pasar.

Walhasil, pemanfaatan koran bekas ini juga yang menjadikan MAN Asahan meraih penghargaan tingkat nasional Adiwiyata 2015 atas kepedulian terhadap lingkungan.

Keberhasilan menembus pasar ini, membuat Risdani percaya diri menelurkan kebisaannya itu kepada warga kampungnya, Desa Tanjung Asri Kabupaten Asahan.

Awalnya, ia sempat ragu karena khawatir tidak mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat.

Namun, betapa ia bersukacita karena 20 orang penduduk yang diajarkan akhirnya bersedia meyuplai bahan baku untuk produk buatannya.

“Saya ajarkan sebentar, mereka langsung bisa. Saya katakan, berapa pun yang dibuat, akan saya beli, karena pasarnya ada. Besoknya saya datang lagi, dan ternyata sudah ada yang buat tali berbahan koran dengan diameter 1 cm, sepanjang 70 meter,” kata dia pula.

Risdani meminta warga membuat tali berbahan koran yang dihargai Rp500 rupiah per meter, sedangkan untuk membuat tali sepanjang 70 meter hanya membutuhkan 1 kg koran bekas.

“Ketika saya datang itu, sudah ada yang langsung menerima uang Rp35 ribu dari saya. Malahan, setelah berjalan satu pekan ada warga yang bisa membuat 2.000 meter atau mendapatkan penghasilan sekitar Rp1 juta,” katanya.

Lantaran mampu memberikan keuntungan bagi warga setempat, ajakan Risdani ini pun menyebar luas dan tidak sebatas di Kabupaten Asahan.

Kegiatan itu meluas ke provinsi lain, sehingga terbentuklah kelompok usaha di Padang, Makassar, Palembang, dan Wakatobi dengan serapan mencapai 100 orang sebagai penyuplai bahan baku.

Model usaha yang ditawarkan Risdani ini cukup diminati, karena relatif mudah dan dapat dikerjakan sendiri tanpa menggunakan alat khusus. Warga hanya diminta membuat tali berdiameter 1 cm berbahan koran.

“Saya katakan, ini mudah sekali. Apa pun yang ada di rumah bisa dibuat duplikatnya dari koran. Jadi lihat saja benda-benda yang ada di rumah, jika guci tidak bisa digantung maka jika berbahan koran maka hal itu bisa dilakukan, ini uniknya,” kata dia.

Hingga kini Risdani telah memiliki 30 item pernak-pernik dengan harga Rp4.000 hingga Rp200.000 yang dipajang di gerai miliknya, Dapur Kreasi Daur Ulang Risarepanga, dengan memperkerjakan 9 orang.

Untuk menyerap produk buatan rekannya yang tersebar di seluruh Indoneia itu, Risdani sama sekali tidak khawatir karena telah bekerja sama dengan reseller di seluruh kota.

Sejauh ini, permintaan relatif terjaga, termasuk dari Green Teacher Australia, yakni komunitas guru yang peduli pada lingkungan dan mulai memesan sejak 2012.

Setelah memulainya pada tahun 2009, ia sudah meraup omzet sekitar Rp300 juta untuk pasar nasional dan Rp100 juta untuk pasar luar negeri. Sementara, dari total omzet itu, keuntungan bersih yang diperolehnya sekitar 25 persen.

Lantas dengan pundi-pundi uang yang sudah dihasilkan itu, mengapa Risdani masih mau menjadi guru?.

Menurutnya, ini sesuatu yang berbeda karena menjadi guru merupakan bentuk pengabdian.

Ia bercita-cita, bukan hanya mendidik siswa secara keilmuan sesuai dengan kepandaian yang dimiliki yakni bidang lingkungan hidup, tapi juga mengajarkan anak asuhnya cara berwirausaha.

“Justru saya berpikir, jika saya berhenti, siapa yang akan meneruskan untuk mengajar siswa di sekolah. Saya ingin siswa ini sendiri yang akhirnya tertarik untuk berwirausaha, seperti saat ini sudah ada dua siswa yang menjadi penyuplai bahan baku, dan uang yang diperoleh untuk membiayai sekolah,” kata dia.

Duta Wirausaha Kepedulian Ridani pada perberdayaan masyarakat ini pada akhirnya menggugah BNI Syariah untuk mengapresiasinya.

Ia pun terpilih menjadi duta Mutiara Bangsa Berhasanah bersama 13 orang wirausaha unggul Tanah Air melalui proses seleksi ketat dari 415 kandidat di tahun 2014.

Namun keberhasilan ini tidak lekas membuat Risdani berpuas diri, sebagai penganut prinsip hasanah (berbuat kebaikan, Red) ia bercita-cita memiliki klinik wirausaha yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menimba ilmu beragam keterampilan untuk membuat produk bernilai jual.

“Ada yang mau belajar bengkel, jahit, belajar nyablon, belajar budidaya baik perikanan dan pertanian dapat datang ke klinik saya. Ini cita-cita saya yang belum terwujud,” ujar dia.

Sementara ini, ia juga menjadi mediator pelaku UMKM dengan pemerintah dalam upaya peningkatan kemampuan berwirausaha, seperti menjadi pengajar pada pelatihan yang bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Tenaga Kerja.

Salah satunya pelatihan digagas oleh BNI Syariah yakni mengajarkan pelaku usaha mikro kecil menengah membuat produk yang laku di pasaran.

Menurutnya, masyarakat harus distimulus menjadi wirausaha karena dengan menjadi wirausaha, maka akan muncul kemandirian dan pemberdayaan.

“Terkadang saya membeli produk apa pun yang dihasilkan para calon wirausaha yang masih belajar, dengan maksud untuk memberikan keyakinan kepada mereka bahwa mereka bisa jadi wirausaha,” katanya.

Menurutnya, di tengah era pedagangan bebas ini, dibutuhkan pihak-pihak yang mendampingi pelaku UMKM karena tantangan ke depan semakin berat.

Para pelaku usaha ini harus diajarkan bagaimana caranya mengelola usaha, sehingga modal yang ada bisa berkembang.

“Banyak yang mengeluh karena tidak ada modal, tapi saya balik bertanya, apakah bila saya kasih Rp1 juta bisa berkembang menjadi Rp1,5 juta. Justru kegagalan UMKM bukan karena tidak ada modal, tapi belum adanya manajemen yang baik,” kata Ketua Mutiara Bangsa Berhasanah ini lagi.

Kepiawaian Risdani sebagai wirausahawan ini sebenarnya sudah terasah semenjak kecil.

Kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai pembuat dan penjual kerajinan miniatur kapal phinisi mampu menghidupi dirinya bersama tujuh saudara kandungnya.

Saat ini seluruh saudara-saudaranya juga memiliki usaha sendiri yang rata-rata membuat kerajinan tangan.

Lantaran itu, meski sudah berprofesi sebagai guru honorer di MAN Asahan sejak 2007, lulusan Fakultas Pertanian Universitas Asahan ini, tetap tidak mengubur impiannya menjadi wirausahawan.

Kini setelah menjadi pengusaha sukses, Risdani juga ingin karakter wirausaha ini juga diwarisi oleh dua putra dan dua putrinya.

“Jika sedang santai, saya ajak membuat tali dari koran bekas. Saya tantang mereka jika ingin mendapatkan uang jajan tambahan. Ini terlihat sederhana, tapi sebenarnya asal muasal menumbuhkan karakter wirausaha, yakni mau bekerja keras dan tidak boleh berputus asa,” ujar dia.

Risdani menempuh perjalanan panjang untuk meraih kesuksesan. Jika saja, pada langkah pertama ia sudah berhenti maka tidak akan ada pernak-pernik cantik berbahan koran bekas yang bisa menembus pasar Australia.

Namun, bermodalkan karakter yang kuat sebagai wirausahawan, ia pun berhasil menuai buah manis dari kerja kerasnya itu, bahkan turut memberdayakan masyarakat sekitarnya.

Sumber: Rimanews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here