Anak Muda Solo Kembangkan Platform Pemasaran Digital

0
54
(Foto: JIBI)

SOLO – Tujuh anak muda Solo yang tergabung dalam Appsintune mengembangkan platform pemasaran digital berlabel Agenda. Piranti lunak bikinan startup lokal ini siap unjuk gigi di hajatan akbar teknologi terbesar se-Asia, Tech in Asia.

Oscar Utomo, 26, Mawar Oky, 21, Daniel Widiyanto, 25, Tejo Kristanto, 23, Yesaya Whisnu Wardhana, 27, Supriyatno, 27, serta Niko Ardanisatya, 25, mengitari meja utama di Rumah Turi, Senin (9/11/2015) siang. Untuk kali pertama mereka memperlihatkan kepada awak media kreasi debut karyanya yang akan diboyong ke ajang konferensi bersama pemodal global potensial di Balai Kartini Jakarta, Rabu (11/11/2015).

“Platform ini bisa dimanfaatkan pelaku UKM dan freelancer yang belum punya nama. Mereka bisa menyusun berbagai informasi bisnis berupa foto, klip video, testimoni, hingga membuat janji dengan klien,” jelas Oscar yang bertindak selaku Manager Project Agenda sekaligus Co-Founder Appsintune.

Ia lantas mempresentasikan gampangnya seorang klien yang ingin janjian bisnis dengan satu pemilik akun Agenda.

“Tinggal klik ‘Book My Time’. Masukkan tanggal. Otomatis jadwal janjian yang sudah disetujui ini langsung terintegrasi dengan kalender Google. Sejam sebelum jadwal, smartphone akan memberikan notifikasi lewat email dan aplikasi yang sudah diinstal,” paparnya.

Dalam tim yang ia komandoi, Oscar mengatakan setiap anggotanya punya peran sendiri-sendiri. Ada yang bertugas menjadi desainer, programmer, technical writer, serta bagian riset dan pengembangan. Platform yang digagas Strategy Appsintune, Hanny Setiawan, 44, ini dikerjakan secara intensif sejak Juli-Oktober di Lantai IV Sekolah Musik Indonesia (SMI) yang terletak di Jl. Veteran No. 2 Solo.

Hanny Setiawan menambahkan tujuh anak muda yang tergabung di Appsintune ia rekrut dari berbagai perguruan tinggi di Solo, Salatiga, sampai Surabaya.
“Awalnya mereka membantu saya di bagian IT SMI. Saya lihat mereka ada potensi untuk mengembangkan startup sendiri. Setelah itu, mereka dilatih coding partner kerja saya dari Singapura,” tuturnya.

Sosok yang sempat bekerja sebagai content writer di salah satu perusahaan IT di Boston, Amerika Serikat ini mengatakan dalam bisnis platform, ide menjadi segalanya. “Paling sulit mencari model business [ide]. Setelah itu baru proses coding. Anak-anak ini saya harapkan ke depan tidak hanya menjadi programmer yang mengerti coding, tapi juga bisa punya ide sendiri,” harapnya.

Hanny mengaku tahap awal startup miliknya hanya mengandalkan modal SDM dan tempat untuk kerja bareng.
“Tahap awal kami nyaris enggak ada cost. Makanya gaji mereka juga tidak banyak. Mereka nantinya menerima insentif sharing profit [saham]. Begitu perusahaan sudah dikembangkan investor dari venture capital, duit mengalir terus,” jelasnya.

Soal konsep kerja, Hanny menerapkan tim bentukannya bekerja ala pekerja kreatif di Silicon Valley.

“Mereka kerja keras enam bulan ini. Tapi kami kerja seperti keluarga. Saat kelihatan capai, mereka boleh ngegame atau berenang dulu sebelum lanjut kerja lagi,” katanya.

Disinggung soal dukungan pemerintah, menurut Hanny, posisi startup digital di Kota Bengawan lebih diuntungkan dengan adanya jaringan kota kreatif Solo Creative City Network (SCCN) yang menjadi jembatan perusahaannya dengan pemerintah.

“Ada SCCN ini menguntungkan. Mereka bisa bertindak selaku fasilitator ke pemerintah,” ujarnya.

Sementara itu, Penggagas Solo Creative City Network (SCCN), Irfan Sutikno, mengemukakan keberadaan Appsintune dengan debutnya Agenda menjadi salah satu bukti Kota Solo memiliki potensi sumber daya kreatif di bidang teknologi informasi.

Sumber: Solopos.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here