Tak Semua Usaha Franchise Butuh Biaya Tinggi

0
28
Karyawan Sun Pretty Laundry menunjukkan jas yang dicuci dengan cara dry clean di gerai laundry yang terletak di RT 004/RW 003, Garen, Pandeyan, Ngemplak, Boyolali, Sabtu (31/10/2015). (Shoqib Angriawan/JIBI/Solopos)

SOLO – Bisnis berjejaring belakangan menjadi salah satu peluang usaha yang masuk akal untuk pemula. Sebab, menciptakan ide bisnis memang bukan pekara gampang.

Bisnis waralaba menjadi salah satu usaha instan yang menjadi pilihan masyarakat. Asalkan memenuhi standar yang ditetapkan pemegang merek. masyarakat bisa membuka usaha sendiri dengan bisnis yang sudah memiliki nama besar.

Besarnya biaya saat bergabung dengan bisnis waralaba seringkali menjadi penghambat. Namun, tidak semua bisnis waralaba membutuhkan biaya tinggi.

Ada beberapa jenis waralaba di Soloraya yang biayanya relatif murah dan cocok bagi pemula. Salah satunya bisnis waralaba Sun Pretty Laundry. Rahajeng Sasi Kirana adalah pencetus bisnis yang bergerak dalam usaha laundry ini.

Wanita kelahiran Solo, 28 Oktober 1980 itu memang membangun bisnis waralaba agar bisa dijangkau semua kalangan.

“Tujuan saya memang untuk membantu agar masyarakat memiliki usaha kecil menengah. Kebanyakan yang bergabung juga masih pemula,” kata dia saat ditemui di gerai laundry miliknya di RT 004/RW 003, Garen, Pandeyan, Ngemplak, Boyolali, Sabtu (31/10/2015).

Dia mematok tarif Rp15 juta-Rp57 juta bagi masyarakat yang bergabung dengan Sun Pretty Laundry. Biaya tersebut tentu tidak mahal karena dana tersebut sudah termasuk mesin cuci, sabun, plastik, pewangi dan peralatan lainnya. Apalagi, dia juga tidak menarik royalti dari pendapatan mitranya.

Kini, dia sudah memiliki 44 mitra yang bergabung dengannya. Mitranya tersebar di Soloraya, Batam, Jakarta, Bekasi, Bandung, Banjarmasin, Semarang, Jogja, Klaten, Surabaya, Tulungagung, hingga Makassar. Selain pakaian, dia juga menerima order pencucian jas, karpet, boneka, sepatu hingga helm.

Sebelum menerima permintaan franchise, dia harus memastikan mitranya harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Persyaratan itu di antaranya adalah penentuan lokasi, pembukuan, cara pemasaran, hingga sumber daya manusia. Jika standar itu dijalankan dengan baik, dia yakin modal mitranya bakal kembali dalam waktu kurang dari setahun.

Selain bisnis waralaba, masyarakat juga tidak ada salahnya jika ingin merintis yang baru.

Pemilik Tomodachi, Yanuar Ariyanto, memasak takoyaki di gerainya yang ada di Pajang, Laweyan, Solo. Foto diambil belum lama ini. (Istimewa)
Pemilik Tomodachi, Yanuar Ariyanto, memasak takoyaki di gerainya yang ada di Pajang, Laweyan, Solo. Foto diambil belum lama ini. (Istimewa)

Pemilik Tomodachi, Yanuar Ariyanto, mengatakan bisnis franchise membutuhkan tanggung jawab yang besar.

Sebab, kualitas dan pelayanan benar-benar harus dipantau agar tetap di atas standar.

“Yang terpenting adalah kemauan. Sebab, bisnis itu tidak hanya diperoleh melalui teori, tapi bisa dari orang lain dan harus praktik sendiri,” katanya saat ditemui di gerai Tomodachi , Penumping, Solo.

Saat ini, pemuda pemilik gerai yang menawarkan makanan khas Jepang seperti takoyaki, ramen, okonomiyaki, susi, onigiri, dan temaki ini telah memiliki lima gerai di Solo.

Ke depan dia ingin menambah variasi menu dan ekspansi keluar Solo.

Sumber: Solopos.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here