Begini Kesiapan Blue Bird Hadapi MEA

0
28

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah di depan mata. Akses pasar di kawasan ASEAN pun terbuka dan siapa pun bisa masuk ke Indonesia. Berlaku juga sebaliknya bagi pemain Indonesia. Ada kekhawatiran di berbagai sektor industri akan dijejali pemain-pemain dari luar, termasuk perusahaan moda transportasi seperti taksi. Tapi, PT Blue Bird Tbk tampak tidak mau menjadikan MEA sebagai ancaman.

“Sebabnya, kalau berbicara soal taksi kita boleh berbangga bahwa di Indonesia moda transportasi ini jauh lebih baik daripada negara-negara tetangga ASEAN lain, seperti Singapura dan Malaysia,” ujar Direktur PT Blue Bird Tbk Andre Djokosoetono.

Di Indonesia, taksi seperti halnya di Blue Bird adalah sebuah layanan. Penumpang merasakan experience lewat kualitas pelayanan dan keramahan pengemudi dari naik sampai turun. Pengelolaannya pun profesional karena setiap taksi dikelola oleh perusahaan. Sedangkan di Singapura dan Malaysia misalnya, taksi hanya sebuah komoditas. Penumpang hanya naik dan turun tanpa value tambahan. Kepemilikan pun dikuasai perorangan.

Singkatnya, meskipun dengan MEA akses pasar menjadi terbuka, sulit bagi pemain negara lain untuk berekspansi ke pasar Indonesia. Justru yang terjadi sebaliknya, beberapa negara ASEAN belajar langsung kepada Blue Bird soal bagaimana mengelola sebuah layanan taksi. “Bahkan, pemerintah Malaysia yang datang ke kantor kami untuk studi banding,” kata Andre.

Saat ini, sedang ramai sekali moda-moda transportasi online yang menawarkan pemesanan melalui aplikasi lewat smartphone. Perusahaan-perusahaan teknologi berekspansi ke Indonesia dengan modal besar lalu menawarkan jasa layanan transportasi dengan berbagai kemudahan lewat mobil sewaan, ojek, bahkan taksi. Apakah ini sebuah ancaman? Jelas tidak, sebaliknya hal tersebut mendorong Blue Bird untuk berbenah dari segi teknologi.

Sejatinya, Blue Bird sudah memiliki aplikasi pemesanan lewat smartphone. Keberadaan perusahaan-perusahaan teknologi tadi membuat Blue Bird kian terpacu untuk terus memperbaiki layanan aplikasi pemesanan mereka.

“Kami aware terhadap perkembangan teknologi, begitu pun dengan persaingan. Dengan semakin maraknya penggunaan aplikasi untuk pemesanan berbagai moda transportasi, sebenarnya semakin baik untuk edukasi masyarakat. Kami pun punya aplikasi itu,” kata Andre. Artinya, semakin sering menggunakan aplikasi smartphone, masyarakat juga akan terdorong untuk mencoba aplikasi pesan taksi Blue Bird. “Buktinya angka pemesanan kami lewat aplikasi ini kian meroket,” kata Andre tanpa mau merinci.

Lalu, kekuatan dari sebaran taksi Blue Bird di berbagai penjuru Nusantara membuat pemain luar sulit untuk melakukan ekspansi. Saat ini, perusahaan taksi ini sudah ada di 14 kota dan didukung oleh sekitar 30.000 armada. Bahkan, tidak menutup kemungkinan untuk menambah lagi daerah operasinya.

Dengan berbagai kelebihan itu, mungkinkah justru Blue Bird yang akan ekspansi ke kawasan ASEAN? “Wacana itu pasti ada, namun belum jadi pemikiran serius. Kami ingin menjadi raja dulu di negeri sendiri. Kawasan yang belum kami jamah pun masih banyak,” tutup Andre.

Sumber: Marketeers.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here