Sepatu Buatan Tangan, Tampil Beda di Tengah Kompetisi Ketat (Bagian 1)

0
40

JAKARTA – Sepatu adalah salah satu item fesyen wajib untuk menunjang penampilan. Di tengah pasar yang semakin penuh sesak dengan berbagai merek, baik lokal maupun asing, sejumlah pelaku usaha berani tampil beda dengan menghadirkan sepatu buatan tangan. Kesan unik melekat pada sepatu-sepatu karya mereka. Tujuannya tak lain memikat konsumen.

Bagi pencinta alas kaki, sepatu dengan tampilan unik bisa memperkuat gaya mereka. Keunikan sepatu juga bisa menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka. Pasar penggemar jenis sepatu tersebut cukup besar. Para pelaku usaha yang menyadari ceruk pasar tersebut pun tak mau menyia-nyiakan peluang ini.

Mereka berlomba-lomba menghadirkan sepatu sesuai dengan tren keunikan yang berkembang di pasaran. Simak kiprah para pengusaha kreatif berikut ini:

Flameon: Bahan dari Celana Jin Bekas

flameon

Salah satu pelaku usaha yang bermain di bisnis ini adalah Aldi Hendrawan dan Kikko Ganenda. Pasangan suami-isteri tersebut merintis bisnis produksi sepatu sejak 2012, di bawah nama merek Flameon.

Namun, Aldi mengaku cikal bakal bisnis sepatu ini sebetulnya sudah dilakoni sejak 2007, jauh sebelum nama Flameon lahir. Membuat sepatu sudah menjadi kegemaran dan hobi tersendiri bagi Aldi.

Kebanyakan sepatu yang digunakan sehari-hari pun merupakan sepatu buatannya sendiri. Melihat adanya peluang di pasar, Aldi pun memberanikan diri terjun ke bisnis alas kaki. Namun, mengingat persaingan bisnis yang semakin ketat, dia pun menelurkan ide baru yang tidak umum di pasaran.

Pilihannya jatuh pada sepatu berbahan jeans atau jin. Ide membuat sepatu berbahan jeans berawal dari hasil observasinya di pasar kaget Tegalega, Bandung yang biasa dilewatinya setiap pulang kuliah.

Sarjana lulusan institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengenang kala itu penjual sepatu berjejer menjajakan barang dagangannya di pinggir jalan, mulai dari makanan, baju bekas, pernik-pernik, hingga celana jin bekas.

“Waktu itu saya merasa aneh, siapa yang mau memakai celana jin bekas orang. Kalau saya pribadi, tentu saya tidak mau. Lalu timbul ide, kenapa tidak dibuat sepatu saja. Nah, dari situlah sepatu khas Flameon lahir,” kenangnya.

Bermodal celana jin bekas yang dibeli seharga Rp5.000, Aldi mulai bereksperimen. Tak disangka, sepatu yang dihasilkan sangat menarik. Apresiasi positif datang dari teman-temannya ketika melihat sepatu itu.

Melihat respons positif ini, Aldi pun mantap berbisnis. Awalnya, sepatu diproduksi hanya berdasarkan pesanan yang masuk. Akan tetapi, semakin lama peminatnya terus bertambah. Mulai 2010, dia resmi masuk pasar.

“Fokus kami kala itu pada sepatu boots, colorful, dan berbahan jeans. Kesan colorful mencuat dari solnya yang warna-warni karena dulu masih belum ada yang pakai, beda dengan sekarang, sudah mainstream,” ujarnya.

Belum juga berkembang besar, bisnis sepatunya menghadapi jalan buntu. Aldi melihat cara bisnisnya kurang tepat karena perencanaan yang kurang matang. Alhasil, bisnisnya jalan di tempat, bahkan nyaris mati.

Tak kapok dengan kegagalan pertama, Aldi justru semakin serius berbisnis. Pada 2012, dia memulai lagi bisnis serupa, kali ini dengan menggandeng Kikko Ganenda yang saat itu masih menjadi kekasihnya.

Konsep yang diusungnya sama dengan bisnis sepatu sebelumnya, dengan tetap mengedepankan limbah jeans. “Konveksi kan banyak potongan jeans yang tidak terpakai, kadang dibuang, dikilo, bahkan dibakar. Saya kadang mendapat bahan itu gratis, kadang juga beli,” jelasnya.

Pemanfaatan bahan jin bekas memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan. Pasalnya, persediaan bahan jin bekas cenderung berbeda-beda. “Ini memang menjadi kendala, tapi perbedaan bahan tersebut menjadi kelebihan juga karena sepatu yang digunakan konsumen menjadi eksklusif, tidak dimiliki orang lain.”

Keterbatasan bahan jin tersebut membuat jumlah sepatu yang dihasilkannya juga tidak tetap. Dalam satu siklus produksi, dia bisa menghasilkan 10—40 pasang sepatu, tergantung pada jumlah dan motif bahan jin bekas yang diperoleh. “Bahkan ada sepatu yang hanya diproduksi empat pasang.”

Dengan konsep bermain warna yang colorful dan berani, Aldi menargetkan segmentasi pasarnya pada remaja kuliah dalam rentang usia 15-22 tahun. Pertimbangannya, pada usia tersebut, kaum remaja biasanya senang bereks-plorasi dan berani tampil beda dalam hal gaya berpakaian, termasuk dalam memilih sepatu.

Untuk pemasaran, Aldi mengandalkan media sosial dan beberapa kali mengikuti bazar ternama di Kota Kembang, serta menitipkannya di beberapa toko sepatu. Setiap toko dititipkan model yang bervariatif dan tidak sama. Harga sepatu yang ditawarkan pun beragam, mulai dari Rp300.000 hingga Rp400.000, tergantung pada desain dan tingkat kesulitan produksinya.

Saat ini, Flameon bisa menjual rata-rata 200 pasang sepatu, dan pernah mencetak rekor penjualan terbanyak mencapai 600-700 pasang sepatu dalam sebulan. Setiap tahunnya, dia mengalami kenaikan omzet sebesar 10%.

Meski demikian, bisnisnya tersebut bukan tanpa hambatan. Aldi mengaku produknya pernah dibajak dengan merek yang sama. Akibatnya, kepercayaan beberapa konsumen menurun.

Produk sepatu handmade dengan bahan limbah memang akhir-akhir ini cukup marak. Akan tetapi, dia tetap optimistis kualitas sepatunya belum dapat disaingi pelaku usaha lain, khususnya dari segi material.

Sumber: Bisnis.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here