Pasar Yakopan Sajikan Kuliner Hingga Barang Lawas

0
112
(Foto: Harianjogja.com)

Berbagai komunitas kreatif berkumpul di Pasar Yakopan yang digelar di Bentara Budaya Yogyakarta.

Peserta Pasar Yakopan ini antara lain Pramono Pinunggul, Subandi Giyanto, Komunitas Radio Padmaditya, Well, Supri, Yuli Rukmini, FMI (Folk Mataraman Institute), Taring Padi dan Survive Garage, SAKI (Sanggar Anak Kampung Indonesia), EriCa Hestu Wahyuni, Aliem Bakhtiar, Herpri Cartoon, Samunav – Sandangan Lawas, Poster Petroek-Alex Pra, Oebet JahiTangan, NailArt, buku anak DaKinang, UKM Sanata Dharma, kaos Agus Leonardus, aneka craft, Tenun Troso Hezti, Deidra Tarot.

Pasar Yakopan ini dibuka mulai 22 hingga 30 September 2015 pukul 15.00-21.00 WIB.

Di sini setiap harinya pengunjung bisa melihat dan membeli berbagai barang yang saat ini bisa jadi hanya menjadi klangenan saja.

Selain itu para pengunjung bisa mencicipi jajanan dan makanan yang sudah langka, serta beraneka ragam kuliner tradisional seperti gatot, tiwul, dawet hitam, pepes, nasi uduk, angkringan, sate kere, soto, kupat tahu, wedang bajigur, aneka gorengan, ketan susu, kopi Jo, herbal drink, dan lain-lain.

Setiap malamnya juga akan ada pertunjukan musik di antaranya keroncong, ndangdut, campursari, jazz, dan balada.
Semangat yang diusung oleh Bentara Budaya Yogyakarta sedari awal adalah bagaimana mendukung dan mempopulerkan kembali berbagai khasanah seni budaya yang pernah ada dan sekarang tidak memperoleh tempat di kalangan luas.

Sesuai dengan jiwa Bentara Budaya Yogyakarta yang akrab dengan seni tradisional, maka Pasar Yakopan disediakan bagi para seniman dan perajin untuk menampilkan karya-karya seni budaya yang sudah jarang kita temui sehari-hari.

Seperti topeng, wayang karton, dolanan anak, keris, batik, lukis wajah, karikatur, serta aneka jajanan dan makanan tradisional.

Pasar Yakopan diambil dari nama Jakob Oetama. Bentara Budaya Yogyakarta diresmikan oleh Jakob Oetama pada tanggal 26 September 1982, kini genap berusia 33 tahun.

Suatu usia dan perjalanan yang cukup panjang bagi sebuah lembaga seni dan budaya.

Pasang surut gelombang telah dilalui oleh Bentara Budaya dan melalui berbagai keterbatasan dan kesederhanaan, Bentara Budaya tetap konsisten dan punya daya tahan untuk terus eksis sebagai lembaga seni budaya.

Sumber: Tribunnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here