Gapoktan Rukun Tani: Laba Budidaya Cabai Bisa 5 Kali Lipat dari Modal!

0
157
Ilustrasi Cabai

Sejak dibentuknya Gapoktan, maka petani tidak lagi menjual panen cabai ke tengkulak.

BOGOR – Gapoktan (gabungan kelompok tani) Rukun Tani merupakan salah satu gabungan kelompok petani sayuran di wilayah Kecamatan Ciawi, Bogor yang cukup sukses memBudidaya cabai yang harganya sempat melambung tinggi.

Misbah, Ketua Gapoktan, mengatakan, petani di Desa Citapen, Kec. Ciawi Kab. Bogor ini sejak 2001 telah memBudidaya berbagai macam tanaman pertanian. Namun baru di tahun 2008, Misbah menyarankan petani untuk menanam cabai, karena harga komoditas tersebut relatif stabil dan di saat-saat tertentu harganya makin pedas (mahal).

“Saat ini kita ada 6 kelompok tani yang menanam cabai di atas lahan 8 hektar dengan sistem tumpang sari (cabai ditanam di sela-sela sayuran seperti cabe dengan sawi),” kata Misbah kepada JITUNEWS.

Misbah menjelaskan, karena lahan garapan pertanian cabai cukup luas, dan mampu menghasilkan panen cabai lebih dari 1 ton tiap bulan, maka di bulan November 2009, Gapoktan Rukun Tani yang beranggotakan 200 orang itu menerima bantuan modal dari PUAP (Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan) sebesar Rp 100 juta untuk menanam cabai lebih banyak lagi.

“Sekitar Rp 22 juta kita belikan benih dan dibagikan pada petani dan sisanya Rp 78 juta untuk keperluan cocok tanam seperti pupuk dan operasional selama tanam,” kata Misbah.

Cabai keriting adalah jenis cabai yang diBudidaya dengan jarak tanam 60 x 60 cm atau 50 x 50 cm per pohon. Benih cabai yang digunakan merupakan benih cabe hybrida merek ternama seperti TM88, Lado dan Tanamo Cap Panah Merah, dan TM99.

“Kami sengaja menggunakan benih kualitas bagus agar menghemat biaya produksi,” ungkap Misbah.

Benar juga apa yang dikatakan Misbah, sebab akan percuma jika menggunakan sarana produksi yang serba bagus namun kualitas benih jelek. Hal itu bisa menyebabkan keuntungan jauh lebih sedikit bahkan yang terburuk bisa menjatuhkan hasil panen.

Dengan menjalankan sistem Budidaya secara tumpang sari dan terpadu, membuat biaya produksi tidak terlalu tinggi. Sebagai gambaran dari 1 pohon hanya membutuhkan biaya sekitar Rp 2-3 ribu, akibat adanya pemasukan dari panen sayuran lain sebagai teman tumpang sari dan Budidaya terpadu.

Budidaya secara terpadu artinya, dalam wilayah tersebut ada kegiatan pertanian yang saling menunjang satu sama lain, misalnya dari Budidaya jagung bisa digunakan untuk pakan ternak. Nah kotoran ternak selanjutnya digunakan sebagai pupuk. Hal tersebut membuat biaya kebutuhan pupuk cukup rendah, karena masih tersedia di lingkungan sekitar.

Sejak dibentuknya Gapoktan, maka petani tidak lagi menjual panen cabai ke tengkulak, namun para petani menjualnya melalui tangan Gapoktan. Dengan demikian, petani akan terhindar dari permainan harga tengkulak yang kerap merugikan petani.

Hingga kini, dari tangan Gapoktan, panen cabai dijual ke beberapa pasar seperti pasar di daerah Bogor, Tangerang, Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta.

“Dari 1 pohon cabai bisa dihasilkan 1 kg selama 5 bulan dari 15 kali panen,” aku Misbah.

Agar cabe lebih tahan lama, sebaiknya ketika panen, sisakan tangkai buah cabe. Panen juga warnanya masih hijau namun sudah memiliki timgkat kematangan 80%. Dengan demikian omset sebesar Rp 90 juta mampu diraup Gapoktan Rukun Tani tiap bulan.

“Ya untungnya lumayan, bisa sampai 5 kali lipat dari modal yang kita gunakan,” pungkas Misbah.

Sumber: Jitunews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here