UKM-UKM Terbaik Surabaya: Modal Seiprit, Omzet Selangit

0
204
TELATEN Aktivitas Sri Retnanik di workshop miliknya Kriya Daun 9996. (Foto: Dipta Wahyu/Jawa Pos)

Gelar pahlawan ekonomi pantas diberikan kepada pelaku usaha kecil menengah (UKM). Mereka tidak hanya mengejar omzet tinggi, tapi juga membantu memberdayakan warga sekitar. Inilah cerita sukses para pelaku UKM Surabaya.

DAUN kering berubah menjadi duit? Tentu bisa. Di tangan Sri Retnanik, daun kering bisa disulap menjadi hiasan cantik. Jika dijual, harganya pun fantastis. Nanik, sapaan Retnanik, membuktikan mahalnya daun kering di bengkel Kriya Daun 9996. Itu adalah usaha yang didirikannya pada 9 September 1996. Kombinasi empat angka di belakang nama merupakan tanggal berdirinya usaha kecil menengah (UKM) yang memproduksi hiasan dari daun kering tersebut.

Hasil karya perempuan 57 tahun itu tidak hanya dijual di Indonesia, tapi juga diekspor hingga mancanegara. Misalnya, Prancis, Jerman, Inggris, dan Belanda. Bermodal Rp 100 ribu, kini omzet Bengkel Kriya Daun 9996 tembus Rp 75 juta per bulan.

Nanik menuturkan, usaha kreatif itu bermula dari kebiasaan suaminya, (alm) Heri Wibawanto, mengumpulkan daun-daun kering. Heri yang merupakan sarjana pertanian memang gemar mengoleksi daun dengan bentuk unik.

Suatu ketika, Nanik dan suami mengunjungi pameran kerajinan. Mereka melihat produk berbahan kulit jagung. Dari sana, muncul ide membuat kerajinan dari daun kering. ’’Yang dipakai ya daun yang dikumpulkan suami,’’ kata Nanik ditemui di kediamannya di Jalan Ngagel Mulyo.

Dia menambahkan, produk pertamanya adalah kartu ucapan berhias daun kering. Selanjutnya, semakin banyak barang yang dihasilkan. Di antaranya, celengan, tempat tisu, frame, block note, kipas, hingga tempat penyimpanan abu jenazah. Semua berhias daun kering.

Bengkel Kriya Daun 9996 berkembang pesat ketika Nanik mendapat kesempatan mewakili Jawa Timur mengikuti pameran di Den Haag, Belanda. Dari pameran yang berlangsung selama sepekan itu, Nanik meraup untung Rp 7 juta.

Semakin mantaplah tekad Nanik dan Heri mengembangkan Bengkel Kriya Daun 9996. Pada 2000, Nanik kembali mengikuti pameran. Hasilnya, dia mendapat pembeli dari Prancis. ’’Mereka minta dibuatkan kotak cokelat,’’ ujarnya.

Setelah itu, pada 2002, Nanik mendapat pembeli dari Inggris. Mereka memesan tempat penyimpanan abu jenazah. Jumlah yang diminta pun tidak sedikit, mencapai ratusan ribu produk. ’’Mulai dari situ, saya merekrut pegawai,’’ ungkapnya.

Dulu, Nanikhanya merekrut 10 karyawan. Namun, seiring bertambahnya pesanan, jumlah karyawan Bengkel Kriya Daun 9996 terus bertambah hingga mencapai 40 orang. Yang namanya usaha, pasti ada fase jatuh bangunnya. Hal itu juga dirasakan Nanik. Pada 2005, pascaperistiwa Bom Bali, usaha Nanik nyaris bangkrut. Semua kliennya dari luar negeri memutuskan hubungan kerja. Alhasil, produk Bengkel Kriya Daun 9996 hanya dipasarkan di Surabaya.

Namun, lambat laun, usahanya kembali stabil. Produk kreatif dari daun-daun kering kembali dicari pembeli asing. Saat ini, Nanik kembali melayani pemesanan tempat abu jenazah dari Inggris. ’’Ada yang penyimpanan abu jenazah manusia, ada juga yang untuk hewan peliharaan seperti anjing,’’ sebut perempuan kelahiran 1 April 1958 itu.

Sepeninggal sang suami pada 2005, Nanik dibantu anak-anaknya menjalankan usaha. Kini, Nanik menjalankan usaha bersama anak keduanya. ’’Ya membantu memperluas pasar dan melakukan operasional,’’ terang ibu tiga anak tersebut.

Meski banyak pesanan, Nanik tidak pernah mengalami kesulitan mencari daun-daun kering sebagai bahan produksi. Saat ini, dia bekerja sama dengan pasukan kuning Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Surabaya. Setiap hari, mereka mengantar sekantong daun kering. Sekilo daun kering dibeli Nanik dengan harga Rp 1.000.

Nanik menuturkan, membuat hiasan dari daun kering tergolong mudah. Pertama, daun yang sudah layu direndam dengan larutan pewarna. Selanjutnya, daun ditiriskan di atas koran, lalu disetrika hingga kering. ’’Setelah itu, ditempel ke pola yang sudah dibuat,’’ jelasnya.

Nanik menambahkan, meski didapat dengan harga murah, jika sudah menjadi hiasan, daun kering tersebut bisa memiliki nilai jual yang tinggi. Menurut dia, yang dinilai dari karya seni adalah kreativitas si pembuat, bukan sekadar bahannya. Menurut Nanik, hal penting yang harus dimiliki seseorang ketika mendirikan usaha adalah sabar dan telaten. Memasarkan produk tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu beberapa bulan hingga tahun. ’’Klien saya juga ada yang lima tahun baru nyantol,’’ ungkapnya. Dia menambahkan, jika pembeli sudah mengenal dan suka dengan produk yang ditawarkan, mereka bisa menjadi pelanggan setia.

Sukses ini membuat UKM Nanik dinobatkan sebagai UKM Terbaik di Surabaya 2015 versi dinas perdagangan dan perindustrian (disperdagin). Secara berurutan, empat besar UKM yang masuk kali ini adalah Bengkel Kriya Daun (kerajinan daun kering), Rahmad (pengolahan temulawak), Ujung Galuh (batik ikat kontemporer), dan Suoklat (olahan cokelat).

Kasi Perdagangan Dalam Negeri Disperdagin Surabaya Sultoni menyatakan, UKM terbaik dipilih berdasarkan tiga indikator. Yakni, besarnya omzet, kontinuitas produksi, dan keramahan lingkungan. ’’Untuk omzet, kami lihat dari seberapa besar tingkat penghasilan UKM per bulan,’’ kata Sultoni.

Sementara itu, indikator kontinuitas produksi dilihat dari konsistensi pelaku usaha dalam memproduksi barang-barang. Kontinuitas juga ditilik dari berapa lama UKM tersebut berdiri. Indikator terakhir adalah seberapa ramah lingkungan produk yang dihasilkan. Para pelaku usaha yang menggunakan bahan-bahan alami atau recycle serta meminimalkan pembuangan sisa limbah menjadi pertimbangan dalam indikator ini.

Sumber: Jawapos.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here