Jelang MEA, Modal Asing ‘Incar” Indonesia

0
78
Ilustrasi ASEAN

PERTH – Indonesia menjadi incaran sejumlah negara menjelang realisasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir 2015.

Ketua Gugus Tugas Diplomasi Ekonomi Indonesia, I Gede Ngurah Swajaya, di Perth, Australia, Rabu (29/7/2015) mengatakan saat mendekati peluncuran Masyarakat Ekonomi ASEAN, Indonesia tercatat menjadi penerima modal asing terbesar kedua di ASEAN. Hingga tengah tahun pertama 2015, modal dari luar dan dalam negeri naik 16,6 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu, katanya.

Modal terbesar intra-ASEAN, yang masuk ke Indonesia, saat ini bukan lagi dari Singapura, melainkan Malaysia, kata I Gede Ngurah Swajaya menekankan tingkat kepercayaan dan keyakinan terhadap ekonomi Indonesia demikian menguat.

Ekonomi Indonesia beserta negara-negara yang tergabung dalam ASEAN kian mendapat perhatian karena GDP kawasan Asia Tenggara yang sebesar 2.395 miliar dolar merupakan yang terbesar ketiga di Asia, setelah Tiongkok (9.240 miliar dolar) dan Jepang (4.919 miliar dolar). GDP ASEAN juga merupakan yang terbesar nomor lima di seluruh dunia, bahkan lebih besar daripada India.

“Ini yang membuat kawasan ASEAN sangat menarik. Ditambah lagi Indonesia mengincar posisi ekonomi terbesar nomor 10 pada beberapa dekade ke depan,” kata pria yang menjabat sebagai Dubes Luarbiasa Republik Indonesia untuk ASEAN dalam seminar digelar University of West Australia (UWA) itu, Swajaya mengatakan, saat mendekati peluncuran Masyarakat Ekonomi ASEAN, Indonesia tercatat menjadi penerima modal asing terbesar kedua di ASEAN.

Pada 2014, Bank Dunia memperkirakan daya beli (PPP) Indonesia duduk diperingkat nomor 8 dunia, di bawah Prancis dan Inggris. Sementara ekonomi Indonesia ditaksir sebagai nomor 16 terbesar di dunia.

“Kita tentu berharap ekonomi ASEAN akan semakin terintegrasi, efisien, dan kompetitif,” katanya.

Sejak didirikan pada 1967, ASEAN telah mengalami transformasi yang sangat masif dan ASEAN telah membuktikan berhasil berkontribusi terhadap penciptaan perdamaian dan kesejahteraan dalam 50 tahun terakhir.

Untuk Masyarakat Ekonomi ASEAN, ada empat pilar yang menjadi landasan utama kerjasama ini. Pertama adalah penyatuan pasar dan produksi, dengan aliran barang, jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja.

Pilar kedua adalah kawasan, yang secara ekonomi semakin bersaing, dengan pembangunan infrastruktur tidak hanya yang menghubungkan kota-kota besar tapi juga kawasan terpencil. Bank pendanaan prasarana ASEAN telah dibentuk tahun 2011 dan Indonesia menjadi kontributor terbesar nomor tiga. Pilar ini juga mencermati aspek perpajakan, e-commerce, dan hak-hak intelektual.

Pilar berikutnya adalah pembangunan ekonomi, yang merata, dengan pengembangan bisnis kecil dan menengah (UKM), inisiatif untuk menekan jeda pembangunan di antara sesama negara ASEAN dengan 7 proyek prioritas.

“Pada bulan September tahun ini, di Jakarta, akan digelar Konferensi ASEAN tentang UKM. Diharapkan pertemuan itu akan mengungkapkan informasi dan meluaskan potensi keuntungan bagi ekonomi ASEAN,” tambahnya.

Pilar terakhir yang coba dikembangkan lewat MEA adalah integrasi ekonomi global, dengan pendekatan terhadap hubungan ekonomi dengan luar kawasan dan meningkatkan partisipasi di jaringingan pasokan global.

“PM Inggris David Cameron kemarin dalam kunjungannya ke Jakarta mendesak agar kesepakatan perdagangan bebas antara ASEAN dan Uni Eropa segera bisa dicapai. Saat ini ASEAN juga sedang bernegosiasi dengan HongKong terjadi perdagangan bebas. Dengan Tiongkok, ASEAN menargetkan ekspansi perdagangan hingga 1 triliun dolar di tahun 2020, melihat target tahun 2015 kita sudah tercapai,” kata dia.

“Ini adalah integrasi ekonomi global. Negosiasinya memang sangat alot, tentu lebih sulit dibandingkan dengan negosiasi antara dua negara,” tambah pria kelahiran tahun 1962 tersebut.

Selain menawarkan banyak peluang bagi dunia bisnis, Indonesia juga masih dijerat berbagai tantangan, meliputi di antaranya birokrasi yang korup dan rendahnya produktifitas buruh.

Menurut survai Bank Pembangunan Asia (ADB), baru sekitar 20 persen bisnis di ASEAN yang siap untuk bertransisi menuju integrasi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Di Asia Tenggara, 90 persen lapangan pekerjaan adalah berupa UKM, dengan kontribusi sekitar 30 hingga 50 persen dari GDP.

Sumber: Bisnis.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here