Kadin: Goyahnya Ekonomi Indonesia Karena Terlena pada Produk Komoditas

0
52

Jakarta – Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perbankan dan Finansial, Rosan P Roeslani, menilai, pembangunan infrastruktur dan industri di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Indonesia secara umum perlu segera direalisasikan. Pasalnya, gerak positif ekonomi nasional maupun daerah akan sangat ditentukan kedua sektor ini.

“Ekonomi Indonesia yang tumbuh positif hampir selama 10 tahun (hingga 2013) akhirnya goyah. Ini disebabkan kita terlena pada keuntungan dari sektor komoditas dan lupa membangun infrastruktur dan industri,” papar Rosan dalam siaran persnya, Jakarta, Minggu (28/6).

Dia menjelaskan, ketergantungan pada harga komoditas tidak mendukung stabilitas ekonomi. Penyebabnya adalah harga komoditas sangat bergantung pada pasar, harga, dan permintaan internasional. Artinya, tidak terbentuk kemandirian dalam dalam menentukan masa depan dan stabilitas ekonomi sendiri.

“Masalah yang dihadapi saat ini sangat penting bagi kita untuk melihat kembali kelemahan pembangunan ekonomi kita. Pembangunan industri dan infrastruktur kita segerakan. Tidak ada kata terlambat,” kata Rosan.

Senada dengan Rosan, Ketua Kadin NTT, Abraham Paul Liyanto, juga melihat infrastruktur dan industri sebagai tantangan khusus dalam pembangunan di NTT. Potensi sektor-sektor unggulan tidak tergarap secara maksimal lantaran belum kondusifnya sejumlah perangkat pendukung.

Untuk itulah, Kadin NTT menghadirkan para pemangku kepentingan sektoral di level nasional dan daerah untuk melihat langsung dan mendiskusikan kebutuhan pembangunan di NTT.

“Kami perlu mendapat solusi dan pertimbangan atas masalah di NTT, antara lain infrastruktur, pariwisata, industri kelautan, dan perikanan,” ucap Paul.

Selain itu, tantangan menjelang pemberlakuan MEA 2015 pada Desember mendatang, dalam pandangan Paul, bisa menghadirkan masalah khusus bagi UKM lokal. Menurut pengusaha yang juga senator asal NTT ini, banyak UKM daerah di bidang perikanan, kelautan, dan pariwisata yang sebenarnya sangat potensial dan berpeluang maju ke level yang lebih tinggi.

“Karena itu kehadiran investor asing saat MEA 2015 perlu diantisipasi. Pemerintah Pusat dan Daerah perlu bantu untuk hadirkan solusi bagi mereka,” kata Paul.

Sumber: beritasatu.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here