Menperin : Produsen Batik Mulai Sulit Memperoleh Bahan Baku

0
128

JAKARTA – Menteri Perindustrian Saleh Husin menyampaikan bahwa pelaku industri kecil menengah (IKM), khususnya produsen batik mulai kesulitan dalam memperoleh bahan baku pembuatan batik. Saleh menyebut pasokan gondorukem atau getah pinus yang merupakan salah satu bahan penguat warga dalam pembuatan batik semakin langka karena banyak yang diekspor.

“Banyaknya negara yang memproduksi batik menyebabkan pasokan gondorukem semakin sulit didapatkan,” kata Saleh dalam acara pembukaan Gelar Batik Nusantara 2015 di Jakarta Convention Center, Rabu (24/6/2015).

Menurut Saleh, produksi gondorukem nasional saat ini hanya 80.000 ton per tahun. Gondorukem dipasok dari PT Inhutani I dan II di Sumatera serta Sulawesi. Sementara itu, kebutuhan dalam negeri akan gondorukem mencapai 70.000 ton per tahun.

“Namun ada kekurangan sekitar 20.000 ton per tahun karena sebagian produksi gondorukem banyak diekspor,” sambung Saleh.

Untuk mengatasi masalah ini, Saleh mengatakan bahwa Kemenperin telah memberikan para pengarijin fasilitas berupa mesin yang bisa mendaur ulang limbah gondorukem sehingga bisa dipakai kembali.

Di samping itu, Saleh menyampaikan bahwa Kemenperin terus berupaya meningkatkan produksi batik industri kecil menengah (IKM). Salah satu upanya adalah dengan menggelar pelatihan teknis, produksi, desain, manajemana produksi, serta pemasaran bagi para pelaku IKM batik.

“Bimbingan teknis terhadap IKM batik secara intensif dengan tujuan memberikan masukan dan solusi terhadap produk yang dihasilkan IKM sehingga produk yang dihasilkan lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitas,” sambung Saleh.

Upaya lainnya adalah dengan mengikutsertakan IKM batik pada pameran-pameran berskala internasional. Menurut Saleh, hingga saat ini tercatat 39.641 IKM yang bergerak di bidang pembatikan. Penyerapan tenaga kerja dari 39.641 unit usaha tersebut kurang lebih 916.783 orang.

“Dan nilai produksi sebesar 39,4 juta dollar AS serta total ekspor sebesar 4,1 juta dollar AS,” kata dia.

Meskipun perkembangan industri batik skala kecil dan menengah dinilainya cukup menggembirakan, Saleh menekankan bahwa Pemerintah harus terus menggenjot daya saing industri batik dalam negeri.

Apalagi Indonesia akan memasuki pasar era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) Desember mendatang. “Kondisi Ini tentu boleh kita merasa bangga, namun kita tidak boleh berhenti untuk berusaha menggenjot daya saing kita, mengingat juga saat ini ASEAN telah menjadi pasar tunggal yang berarti bebasnya keluar masuk arus modal, barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja terampil di antara sesama negara ASEAN,” tutur Saleh.

Adapun Gelar Batik Nusantara (GBN) merupakan acara dua tahunan yang digelar Yayasan Batik Indonesia (YBI) yang bekerjasama dengan Kementerian Perindustrian.

GBN merupakan salah satu langkah YBI mewujudkan visi dan misinya dalam upaya mendorong berkembangnya kemampuan pengusaha/perajin batik termasuk para desainer dan seniman perancang batik Indonesia.

Pada tahun 2013 pameran GBN diikuti oleh lebih dari 350 perajin, desainer, dan pengusaha batik nasional. Selain pameran batik, GBN menyajikan berbagai acara penunjang seperti pemberian penghargaan, seminar atau talkshow, dan pagelaran busana.

Sumber: kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here