Seminggu Digelar, Nilai Transaksi Expo Erau Capai Rp 10 Miliar

0
6
Sebuah tarian yang dibawakan Delegasi dari Estonia dalam Erau, Pesta Adat Kutai yang digelar awal bulan ini. Data BPMPD Kukar mencatat transaksi selama expo mencapai Rp 10 M. (Foto: Tribun Kaltim)

TENGGARONG – Pelaksanaan Pesta Adat Kutai Erau baru saja berakhir pekan lalu. Nilai transaksi dalam Expo Erau mencapai Rp 10 miliar.

Angka yang tidak sedikit untuk capaian selama seminggu sejak Expo Erau dibuka, Minggu (7/6/2015) lalu.
“Nilai traksaksinya Rp 10 miliar,” kata Bambang Arwanto, Kepala Badan Penanaman Modal dan Promosi Daerah (BPMPD) Kukar, Minggu (21/6/2015).

Nilai transaksi yang fantastis ini menjadi tolok ukur dari kesuksesan penyelenggaraan Erau dan Expo Erau yang dimeriahkan 230 stan. Pameran ini diramaikan 30 stan UKM dari luar daerah yang menjajakan baju, tas, dompet, batu akik, makanan hingga aksesori ponsel. Jumlah pengunjung pameran mencapai Rp 5.000-Rp 6.000 orang per hari.

Pengunjung pameran tak hanya didominasi warga lokal tapi juga peserta Erau dari 13 negara asing. Mereka juga berburu cenderamata untuk oleh-oleh ke negaranya.

Seorang Liasion Officer (LO) yang sehari-hari mendampingi peserta dari luar negeri, mengabarkan satu orang bisa menghabiskan minimal Rp 1 juta dalam sehari untuk belanja di Expo Erau.

Dua hotel tempat delegasi 13 negara menginap, menyediakan layanan money changer (penukaran uang). Mereka pun memanfaatkan layanan itu untuk belanja oleh-oleh sebelum pulang ke negara masing-masing.

Bupati Kukar Rita Widyasari memberikan apresiasi dari kegiatan Expo Erau sebagai ajang promosi bagi UKM atau UMKM dalam mengenalkan produk mereka.

Tiap pelaku UKM perlu terus berinovasi untuk meningkatkan kualitas produk mereka. Menurutnya, produk yang dipamerkan ini tidak hanya bisa dinikmati masyarakat lokal, tapi juga warga mancanegara, khususnya para partisipan Erau 2015.

Pelaku UMKM harus yakin suatu saat produk mereka juga dibawa ke mancanegara. Jadi kualitas produk harus terus diperhatikan, kalau perlu ditingkatkan. Khusus produk makanan, pelaku usaha harus memperhatikan segi higienitas (standar kebersihan),” ucap Rita.

Sumber: tribunnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here