UKM Tulungagung Akui Was-was Hadapi MEA

0
157
Ilustrasi ASEAN

Rimanews – Sejumlah kalangan usaha kecil dan menengah (UKM) di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mengaku was-was dengan rencana pemberlakuan kebijakan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada Desember 2015, karena persaingan produk bakal semakin ketat.

“MEA lebih menjadi ancaman bagi sektor industri kecil dan menengah, karena secara permodalan, SDM, kemampuan produksi maupun kualitas, kami belum siap,” kata salah seorang pengusaha industri kerupuk kulit rambak di Tulungagung, Jawa Timur, Minggu (21/06/2015).

Kekhawatiran Waluyo mengacu pada kondisi kelesuan perekonomian nasional saat ini, yang dinilainya telah memukul hampir semua sektor industri, termasuk kuliner.

Menurunnya volume produksi hingga kisaran 70 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya itu membuat tantangan industri kecil semakin berat.

Ironisnya, kalangan UKM tidak mengetahui secara pasti penyebab anjloknya animo pasar terhadap produk-produk yang mereka hasilkan.

“Sulit dijelaskan, karena sepertinya ini dampak ekonomi makro yang berimbas ke ekonomi mikro secara nasional. Kebijakan pemerintah dalam hal ini tentu sangat berpengaruh,” ujar Waluyo.

Industri kuliner yang digeluti Waluyo dan 40-an pengusaha kecil lain di sektor usaha yang sama sebenarnya hanya sedikit terpapar resesi ekonomi nasional.

Jika tahun sebelumnya, setiap memasuki Ramadhan permintaan bisa melonjak 100-200 persen, tahun ini mereka hanya menikmati separuhnya.

Namun kondisi lebih buruk dialami sektor usaha kecil bidang konveksi dan marmer yang banyak berkembang di Tulungagung.

“Perekonomian nasional sepertinya memang mengalami perlambatan, dan itu memukul langsung sektor industri kecil seperti kami,” kata pemilik usaha konveksi Alicia Collection di Desa Mangunsari, Kota Tulungagung, Mohammad Ali Said.

Ali yang memiliki industri aneka produk busana muslim, baik untuk anak-anak, dewasa pria dan wanita ini mengaku omzet produksinya turun sekitar 60 persen.

Jika tahun-tahun sebelumnya rata-rata omzet kapital yang ia putar untuk usaha mencapai sekitar Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar per tahun, pada periode 2015 diperkirakan tinggal sekitar Rp600 juta hingga Rp700 jutaan per tahun.

Selain faktor ekonomi makro di Tanah Air yang memang lesu, lanjut Ali, momentum Ramadhan dan Lebaran yang bersamaan dengan tajun ajaran baru sekolah ikut memperburuk kondisi pasar konveksi yang telah mengalami penurunan.

“Tahun lalu saat menjelang Ramadhan seperti sekarang, dari 20 ribu produk konveksi yang kami hasilnya masih terserap sekitar 12 ribuan. Sisa 8.000-an helai sisa tahun lalu kami tambah produk baru sekitar 2.000 sehingga total ada 10 ribuan, sekarang, yang terserap pasar bahkan tidak sampai 4.000. Kondisi ini benar-benar parah,” keluhnya.

Jika kondisi ekonomi tetap tidak bergairah seperti sekarang, baik Waluyo maupun Ali mengaku pesimistis kalangan UKM dalam negeri mampu bersaing dengan produk-produk negara lain di kawasan Masyarakat ASEAN.

Selain faktor keterbatasan modal, kelengkapan alat kerja dan SDM, globalisasi pasar justru dilihat para pengusaha lokal sebagai ancaman ekspansi produk asing ke dalam negeri dibandingkan peluang mereka untuk merambah potensi pasar ASEAN.

Karena itu, mereka berharap dukungan pemerintah dalam mengurangi dampak penurunan perekonomian yang mereka alami, sekaligus perlu dukungan masyarakat untuk lebih memilih produk buatan bangsa sendiri.

Sumber: rimanews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here