Membangun “Super Team”, Bukan “Superman”

0
105
Novi Imelly

Siapa nyana, impian Novi Imelly cilik pada 1970-an kini menjadi nyata dan terbentang di depan mata. Memori masa kecil gadis Medan, Sumatera Utara ini merekam bagaimana gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, seperti Wisma Nusantara dan Hotel Indonesia di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, begitu memesona.

Pada 1970-an jumlah gedung jangkung di ibu kota Republik Indonesia masih dalam hitungan jari. Kini, di Jakarta sedikitnya terdapat 700 gedung yang menjulang tinggi. Jakarta sudah menjadi hutan beton.

“Dahulu, saat saya berumur 9-10 tahun dan menginap di Hotel Indonesia, sempat saya bergumam, rasanya enak berkantor di gedung tinggi. Belakangan saya terinspirasi untuk bergerak di bidang properti dan perencanaan kota,” ujar presiden direktur PT Grha Kirana Development itu di Serpong, Tangerang, Banten, pekan lalu.

Novi muda pun akhirnya memilih jurusan teknik sipil dan perencanaan Institut Teknologi Bandung (ITB). Agak unik, mengingat keluarga besarnya rata-rata berprofesi sebagai dokter. Tak kurang dari 70-an keluarga besar Novi menjadi dokter dengan spesialisasi berbeda-beda.

Tak mengherankan jika pilihan Novi mengambil jurusan teknik itu sempat menjadi gurauan keluarga besarnya. Belakangan, Novi bisa membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi “dokter” properti. Lewat tangannya, perusahaan yang digawanginya menjadi lebih sehat berkat vitamin dan resep jitu anak kedua dari empat bersaudara ini.

Berikut wawancara dengan perempuan kelahiran Medan, 2 November 1970, yang pernah menjadi Puteri Kampus Nasional 1993 ini.

Bisa diceritakan perjalanan karier dan usaha Anda?
Saya sempat menjadi asisten dosen di ITB, kemudian bekerja di perusahaan konsultan properti, bahkan sempat menjadi pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dengan jabatan sebagai city and regional planner pada 1994.

Semua saya jalani dengan bersemangat dan terus mencari pembelajaran baru. Hingga akhirnya saya masuk ke bisnis properti di perusahaan PT Bumi Serpong Damai. Selama empat tahun di perusahaan ini, jabatan terakhir saya adalah biro direksi dan pengembangan usaha/business development. Selama di BSD, saya belajar bagaimana mendesain sebuah kota mandiri yang ideal. Ini pembelajaran yang amat berharga. Apalagi saat itu BSD sedang fokus membangun kota mandiri di kawasan Serpong, Banten.

Anda juga sempat belajar di pengembang-pengembang besar lain?
Jika di BSD saya belajar bagaimana mendesain kota mandiri yang ideal. Pembelajaran selanjutnya yang saya dapat adalah dari Lippo Karawaci Tbk. Saya mengenyam banyak pengalaman di pengembang besar ini. Posisi terakhir saya adalah sebagai chief executive officer (CEO) and owner representative untuk proyek WTC Matahari, Metropolis Town Square, dan Depok Town Square.

Dari Lippo Karawaci, saya mendapat pembelajaran yang luar biasa, yakni bagaimana meningkatkan suatu kawasan agar lebih maksimal. Saya banyak belajar dari Pak James Riady (CEO Lippo Group, Red). Setelah itu, saya sempat menjadi direktur eksekutif untuk proyek Gading Serpong Permai milik PT Summarecon Agung Tbk.

Pembelajaran lain yang bisa saya petik adalah dari PT Modernland Realty Tbk. Di perusahaan ini, saya sempat menjadi marketing and business development director. Saya banyak belajar mengenai bagaimana bertahan di tengah badai bisnis. Di Modernland, saya cukup puas karena bisa ikut membantu pendapatan perseroan yang saat saya masuk baru sekitar Rp 30 miliar per tahun menjadi sekitar Rp 435 miliar saat saya keluar pada 2008.

Puncak karier saya sebagai profesional tercapai di PT Cowell Development Tbk. Selama tujuh tahun di perusahaan properti ini, saya menempati posisi sebagai managing director saat saya melepasnya pada akhir Januari 2015. Di sini, saya merasa senang bisa ikut membesarkan perusahaan. Cowell memang tidak sebesar BSD, apalagi Lippo Karawaci, namun saya senang bisa meningkatkan pendapatan dari semula saat pertama saya masuk baru Rp 90-an miliar per tahun menjadi Rp 2 triliun saat saya melepas posisi puncak manajemen.

Di Cowell, pembelajaran penting yang bisa saya petik adalah bagaimana pentingnya menyiapkan kader pengganti. Kita mesti bisa memberi kesempatan kepada anak buah untuk menjadi pengganti kita dengan cara memberinya kesempatan belajar kepada kader yang disiapkan. Tapi, di sini pula saya mendapat kesempatan bagaimana berkreasi tanpa batas.

Mengapa Anda akhirnya mendirikan perusahaan properti sendiri?
Setelah melepaskan posisi puncak di Cowell pada akhir Januari 2015, saya memilih mendirikan perusahaan sendiri, yakni PT Grha Kirana Development. Ini adalah perusahaan properti yang bergerak di segmen menengah bawah. Kami membangun hunian dengan harga berkisar Rp 117 juta hingga Rp 150 juta per unit.

Proyek kami ada dua tempat saat ini, yaitu di Tangerang (Banten) dan Medan (Sumatera Utara). Target kami bisa membangun 1.000 rumah bagi masyarakat menengah ke bawah. Kami berharap agar masyarakat bisa memiliki rumah layak huni dengan harga terjangkau.

Sekalipun untuk memenuhi kebutuhan hunian adalah tugas pemerintah, saya merasa jika kita bisa membantu mereka, itu menjadi sebuah kepuasan tersendiri. Kita tahu defisit pasokan perumahan atau backlog mencapai sekitar 13,6 juta unit. Itu artinya masih banyak masyarakat kita yang belum punya rumah.

Itulah misi utama Grha Kirana Development yang kami sebut dengan social entrepreneur. Semangat untuk berbagi dengan masyarakat. Kami sadar butuh keuntungan, tapi tidak terlalu besar karena harga yang kami tawarkan berkisar Rp 117 juta sampai Rp 150 juta per unit.

Nah, untuk yang murni seratus persen berbisnis atau komersial sebenarnya sudah saya rancang dengan suami saya lewat PT Ronov Indonesia pada 2007. Kini, Ronov melakukan kerja sama operasi (KSO) dengan Merdeka yang melahirkan proyek Intermark di Serpong, Tangerang.

Anda punya gaya kepemimpinan seperti apa?
Saat ini, jumlah karyawan di Merdeka Ronov Indonesia atau proyek Intermark sekitar 100 orang yang terdiri atas back office 70 orang dan sales team 30 orang. Sedangkan di Grha Kirana Development, yakni untuk proyek Kirana Residence Serpong dan Kirana Garden Medan terdiri atas back office sebanyak 50 orang dan sales team 60 orang. Lalu, untuk proyek agency dan konsultan marketing ada 80 orang sales team dari posisi general manager, sales manager, supervisor, dan sales executive.

Bagi saya, karyawan adalah mitra. Bagi saya tidak ada superman. Tidak ada superwoman. Yang ada hanya super team. Semua memiliki peran. Apalagi dalam bidang properti, yang proses pekerjaan dan produksinya sangat panjang dan kompleks, mulai dari meriset suatu lokasi, melakukan studi highest and best use-nya, membebaskan lahannya, mendesain produk, menyiapkan promotion tools dan branding produk, memasarkannya, membangun, sampai menjaga kualitas produk yang dikembangkan melalui pengelolaan yang baik. Semua hanya bisa dilakukan lewat kerja sama tim.

Saya selalu memotivasi karyawan agar just do the best, and god will do the rest. Jika kita sudah melakukan semuanya yang terbaik yang kita bisa, biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya. Andai gagal pun tidak ada penyesalan karena kita sudah melakukan semua yang terbaik.

Kami membangun kerja sama dan loyalitas dengan memperlakukan karyawan seperti anak, adik, teman, atau saudara, mulai dari level office boy, security, sampai direktur operasional. Saya harus menyediakan waktu untuk mendengar curahan hati mereka, termasuk mengagendakan kegiatan makan bareng, karaoke, bahkan sampai liburan bareng.

Selain itu, memberikan profit sharing dalam bentuk overriding dan bonus dari hasil penjualan kepada seluruh karyawan, sehingga semua orang merasa memiliki dan menjaga perusahaan seperti perusahaannya sendiri.

Bagaimana Anda melihat industri properti saat ini?
Saat ini industri properti dalam kondisi babak belur. Sejumlah persoalan melanda para pengembang properti, mulai dari persoalan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, suku bunga, kebijakan loan to value dari Bank Indonesia (BI), hingga persoalan daya beli masyarakat.

Di tengah itu semua, menurut saya, para pengembang properti harus lebih kreatif dan inovatif dalam berbisnis. Pengembang harus membuat produk yang pas dan membidik segmen yang tepat. Saat ini, konsumen di segmen atas cenderung wait and see. Karena itu, sekitar 70 persen kue properti kami berada di segmen menengah bawah.

Sumber: Beritasatu.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here