Ngawangkong di Kebon bersama Serambi Petani Indonesia

0
113

Hari Sabtu, 6 Juni 2015  kemarin, Pak Bi dan Bu Dwita diundang untuk menghadiri Ngawangkong di Kebon (2) oleh Kang Eep dari Serambi Petani Indonesia. Bertempat di Kebun Serambi Petani Indonesia di Manggahang, Baleendah, Bandung; Ngawangkong kali ini membahas mengenai “Kemandirian Pangan dalam Peradaban Sunda”.

IMG-20150608-WA0028
Disini tempat Ngawangkong-nya 🙂

Ngawangkong di Kebon (Ngobrol di Kebun) adalah salah satu dari rangkaian kegiatan Diskusi Pertanian yang bertujuan membangun kesadaran berbagai pihak mengenai pertanian organik di Indonesia. Pertanian organik ini ternyata berkaitan erat dengan tata cara bertani para leluhur kita, lho. Topik yang diangkat di Ngawangkong bermacam-macam, seperti: tradisi bertani para leluhur, apa yang harus dilakukan untuk memiliki sertifikasi organik, teknologi pertanian modern, hingga cara pemasaran hasil tani. Semua dibahas bersama para ahli di bidangnya masing-masing.

Kemarin kami berkesempatan mendengar ceritaUstadz Yosep Tahir Ma’ruf dari Gorontalo. Beliau adalah perintis Desa Wisata Religius Bubohu, sebuah desa kecil di Gorontalo yang merupakan desa tujuan wisata bagi merek ayang ingin belajar mengenai agama Islam dan lingkungan hidup. Ustadz Yosep bercerita mengenai perjalanan beliau dalam usaha agrobisnisnya, serta bagaimana beliau membangun berbagai sarana pendidikan seperti Pesantren Alam Bubohu, SMK Pariwisata Bubohu, Yotama Art Studio, dan lainnya. Beliau juga mengajak agar kita kembali ke pertanian organik, karena dengan itu juga kita menjalin hubungan yang harmonis dengan alam.

IMG-20150608-WA0032
Selfie Pak Bi di tengah ngawangkong 😀

Setelah makan siang yang ditemani dengan sambal bajak super pedas dari cabai yang ditanam di kebun sendiri, sesi Ngawangkong dilanjutkan dengan mendengarkan seorang wartawan senior yang menceritakan pengalamannya yang agak random: dari masa kecilnya di Garut yang hingga pengalamannya sebagai wartawan yang membuat beliau bolak-balik Israel dan negara Timur Tengah lainnya. Ternyata, di Israel ada sistem pertanian yang dinamakan Kibbutz (dalam bahasa Hebrew berarti ‘mengumpulkan’, plural: kibbutzim), komunitas kolektif di Israel yang berbasis agrikultur. Di tahun 2010 tercatat ada sekitar 270 kibbutzim di Israel yang menyumbangkan 40% dari total hasil pertanian nasional. Karena adanya kibbutzim ini, Israel sudah mandiri secara pangan, bahkan bagi mereka yang ini berkarir di politik diharuskan memiliki keanggotaan kibbutz.

Pepaya organik ternyata lebih manis lho!
Pepaya organik ternyata lebih manis lho!

Pulang dari Ngawangkong, kami tidak hanya membawa pulang pengetahuan baru. Pepaya, singkong, bibit bawang Donggala, biji kopi adalah beberapa hasil tani yang kami bawa pulang 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here