Gara-Gara Sampah Berserakan, Warga Kudus Ini Olah Plastik Jadi BBM

0
101

Siapa sangka kalau sampah yang berserakan di halaman rumah bisa mendatangkan inspirasi membuat alat pengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif. Hal ini terjadi pada Karsidi, warga warga Desa Soco Kecamatan Dawe Kudus ketika menyapu sampah di halaman rumahnya. Biasanya sampah yang terdiri dari plastik dan daun, dia kumpulkan kemudian dibakar. Dari sini lah ide mengolah sampah plastik menyadi BBM itu muncul.

“Ketika dibakar, khususnya sampah plastik mengeluarkan cairan seperti minyak. Kemudian dari situ saya bereksperimen,” kata Karsidi dikutip dari tribunnews.com

Menurutnya, saat ini banyak orang yag nggak bisa lepas dari bahan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Plastik udah menjadi komponen penting dalam kehidupan modern saat ini. Peranannya telah menggantikan kayu dan logam. Sifat-sifat keunggulan bahan plastik bikin bahan ini sulit tergantikan dengan bahan lainnya. Tapi plastik juga punya kelemahan, yaitu sulit terurai dalam tanah.

“Banyak benda yang terbuat dari plastik kemudian dibuang begitu saja, misalnya kantong kresek dan botol minuman. Saya hanya peduli dengan lingkungan sekitar. Atas dasar itu kami membuat alat yang bisa mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak alternatif. Selama kurang lebih tiga bulan alat ini dirancang,” ucap Karsidi.

Pria yang kesehariannya berwiraswasta di bidang las besi itu menamakan alatnya Destilator. Bahan bakar minyak hasil dari pembakaran sampah plastik, ia namakan minyak plastik (Miplas). Miplas ini bisa digunakan sebagai bahan bakar kompor minyak, tungku atau mesin-mesin bakar sederhana. Bahkan, Karsidi pernah memakai bensin alternatif itu untuk bahan bakar motor bebeknya.

Alat ini terdiri atas saluran pemasukan dari besi yang berada di sisi bawah dan berbentuk bulat. Fungsinya, memasukan sampah plastik ke dalam tangki reaktor di atas tungku pembakar.

“Sengaja dibentuk bulat agar lebih kuat. Karena sampah dibakar pastinya mengeluarkan zat yang menekan dari dalam. Kalau bentuknya tidak bundar, itu sangat mudah bocor atau mengalami perubahan permukaan,” terang Karsidi.

Bahan untuk membakar dari sisi bawah tangki reaktor bisa bermacam. Misalnya, limbah kayu bekas, briket, kompor minyak atau kompor pakai gas. Sistem kerja yang digunakan adalah destilasi kering, yaitu limbah plastik dipanaskan di atas suhu leburnya sehingga berubah jadi uap. Proses pemanasan ini menyebabkan perekahan pada molekul polimer plastik yang menjadi potongan molekul lebih pendek.

Untuk memperoleh uap, tangki reaktor dihubungkan kondensor atau pengembun yang berada tepat di atas tangki. Diperlukan minimal dua kondensor atau wadah untuk memisahkan uap yang mengandung rantai molekul pendek dengan uap yang mengandung rantai molekul panjang. Di dalam kondensor itu terdapat saringan dari bahan serat kaca dan aluminium. Aluminium berfungsi sebagai penangkar uap sedangkan serat kaca untuk menyaring.

“Kondensor di bawah yang terhubung langsung dengan tangki reaktor akan menghasilkan minyak yang belum jernih atau mirip dengan proses penyulingan solar. Sedangkan di atas sudah jernih. Jika ingin menghasilkan minyak yang lebih jernih lagi, dapat ditambahkan kondensor tiga lapis atau lebih,” jelasnya.

Penyaluran uap ini menggunakan pipa besi sehingga tahan suhu tinggi atau panas. Selanjutnya, pada setiap kondensor dipasang pipa penyalur untuk mengalurkan embun dari uap yang dihasilkan. Tetes demi tetes uap yang didinginan dan berbentuk cair dapat ditampung dalam botol. Selanjutnya cairan tersebut sudah berbentuk minyak. Satu kilogram limbah plastik dapat menghasilkan sekitar 0,8 liter bahan dasar minyak atau minyak mentah.

Selain usaha diatas, mengubah sampah plastik menjadi minyak mentah juga telah dilakukan oleh beberapa pihak salah satunya adalah tim finalis Kompetisi Proposal Hijau Toyota Eco Youth 9 adal SMAN 1 Yogyakarta dengan alat yang mereka sebut Recycle Bicycle.

Sumber : tribunnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here