Bertandang ke Padang

0
17

Pada tanggal 7-9 Mei 2015 lalu, Pak Bi dan Bu Dwita mengunjungi Padang, Sumatera Barat dalam rangka seminar “Cara Gila Bikin Brand tanpa Iklan” dan kelas “Step By Step Branding”. Seperti dalam perjalanan-perjalanan sebelumnya, Pak Bi dan Bu Dwita diajak wisata kuliner lokal dengan teman-teman UKM.

Dikarenakan jadwal yang padat pada siang harinya di ibukota, Pak Bi dan Bu Dwita tiba di Padang sekitar pukul 21.40. Sesampainya di Padang, keduanya langsung diajak oleh teman-teman dari UKM Padang untuk ngemil malam di Bofet Malabar yang terkenal dengan Martabak Malabar-nya.

Martabak Malabar mirip dengan martabak telur lainnya, tapi martabak yang satu ini lebih tebal karena di atas kulitnya yang sudah dilipat ditumpuk lagi dengan isian potongan daging kecil-kecil dan bahan lainnya. Katanya Bu Dwita, aroma rempah dan telur langsung tercium ketika sesampainya beliau di Bofet yang berlokasi di Jl. Bandar Purus No. 42. Ini adalah warung keduanya Bofet Malabar yang ramai didatangi anak-anak muda karena buka hingga tengah malam, sedangkan warung pertamanya berlokasi di Jl. H. Thamrin No. 1, Padang. Martabak Malabar identik dengan penjualnya yang keturunan Arab dan India, mungkin karena itulah banyak juga yang menyebutnya Martabak Mesir Malabar. Selain martabak, di sini juga tersedia masakan lainnya seperti nasi goreng, sup kambing, gulai, roti dan masih banyak lagi.

IMG-20150520-WA0002
Ini lho yang namanya Martabak Malabar…

 

 

Waktu tidak berasa berjalan kalau kita menikmatinya, sampai-sampai Pak Bi dan Bu Dwita masih asyik ngobrol dengan teman-teman UKM Padang hingga pukul 1 pagi 🙂

Selama di Padang, penginapan dan kelas diadakan di Hotel Daima, Jl. Jend. Sudirman No. 17. Lokasinya cukup strategis di tengah kota Padang, jadi memudahkan kalau mau jalan-jalan atau wisata kuliner. 

IMG-20150520-WA0006
Pemandangan dari Hotel Daima, yang bentuknya Rumah Gadang adalah Gedung Bank Indonesia cab. Padang

 

Tanggal 9 Mei 2015, tepatnya hari Sabtu adalah jadwal kelasnya Pak Bi dari pagi hingga sore. Kelas “Cara Gila Bikin Brand tanpa Iklan” dimulai pada pukul 9 pagi hingga 12 siang, dilanjutkan dengan kelas Step-by-Step-Branding dari pukul 1 siang hingga 5 sore. Nah, kelas yang terakhir hanya dibatasi maksimal 20 peserta, dengan syarat harus ikut kelas ‘Cara Gila Bikin Brand’ terlebih dahulu. Dalam kelas, Pak Bi mengingatkan akan tantangan bagi teman-teman UKM, diantaranya: bagaimana membuat produknya menjadi bagian dari lifestyle, rasa penasaran konsumen adalah cara pemasaran yang baik untuk produk kita, dan brand positioning itu penting karena merupakan DNA dari brand kita.

Produk UKM Padang menarik lho! Ada yang mengangkat kekayaan kuliner lokal seperti Rendang dan Dendeng Bu Mei yang dikemas dalam botol dan Srondeng Mercon’s Kampioen yang terbuat dari ubi. Pemilik Srondeng Mercon, Dwita Mellisa adalah pemenang Business Plan Competition Oneintwenty Movement 2014 regional Padang di kategori Food & Beverage. Peserta kelas ini cukup beragam, mulai dari kuliner hingga penyedia layanan wifi, sprei hingga perfume Azzwars 🙂

Pak Bi dan Bu Dwita juga berkenalan dengan Risoles Kamboja dan Martabak Shanghai Kartika. Lucu ya namanya Martabak Shanghai J Namanya martabak sih, tapi rasa dan tampilannya nggak kayak martabak. Martabak Shanghai berisi wortel, kentang, daging sapi, cabai dan bumbu-bumbu lainnya, cocok sebagai camilan atau sarapan. Bang Ambo dan Yu Kartika memberi oleh-oleh Martabak Shanghai kepada Pak Bi dan Bu Dwita untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh dari Padang.

IMG-20150520-WA0004
Martabak Shanghai yang nggak seperti martabak pada umumnya 🙂

 

Setelah kelas, Pak Bi dan Bu Dwita beserta teman-teman UKM Padang wisata kuliner lagi di Simpang Kinol. Rumah makan yang dipilih Roda Jaya karena menurut teman-teman pilihan makanannya banyak ragam. Menu makan malam kali ini adalah Soto Padang. Kuahnya bening, dan daging sapinya digoreng dulu sehingga ada sensasi crunchy di setiap gigitan. Pak Bi menambah Sate Padang untuk makan malamnya, kali ini sate khas dari Bukittinggi.

IMG-20150520-WA0016
Soto Padang dan Sate Padang khas Bukittinggi di rumah makan Roda Jaya

 

Simpang Kinol adalah pusat kuliner malam di Padang sejak tahun 1990-an, berlokasi di Pondok dalam kawasan Pecinaan. Namanya berasal dari Apotik Kinol yang ada di perempatan jalan tempat Simpang Kinol berada. Makanan yang dijual tidak terlalu mahal dan segala jenis makanan dapat ditemukan disini. Beragam jenis martabak, soto Padang, nasi goreng, hingga masakan Jawa seperti gado-gado dan pecel lele. Namun, penjual paling banyak adalah penjual sate, ada sate dangun-dangun, sate khas Payakumbuh yang sausnya berwarna merah, sate Padang dari bermacam daerah di Sumatera Barat, hingga sate Madura.

Di hari terakhir, rombongan makan pagi sebelum perjalanan ke airport di WarKop Nipah di Jl. Nipah No. 1D. Ini adalah tempatnya warga lokal dari berbagai kalangan memulai harinya, sekilas mengingatkan Pak Bi dan Bu Dwita akan Kim Teng di Pekanbaru. Disana, Pak Bi dan Bu Dwita mencoba Sate khas Payakumbuh dan Soto Medan yang berkuah santan ditemani dengan teh susu hangat.

IMG-20150520-WA0010
Kalau yang ini adalah Sate Padang khas Payakumbuh, bumbunya berwarna merah

 

Akhirnya, perjalanan ke Padang berakhir dengan hati senang dan perut kenyang 🙂 Terima kasih kepada rekan-rekan UKM Padang yang membantu terselenggaranya kelas Branding Pak Bi : Uda Reza, Uda Tomy, Uda Yos, Bang Arlin, dan Bang Muklis yang mengajak keliling Padang dan mengocok perut kami semua!

IMG-20150520-WA0014
Terima kasih teman-teman UKM Padang!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here