Indonesia Siap Pasok 20 Persen Kebutuhan Kakao Dunia

0
117
Ilustrasi Kakao

Indonesia berpotensi tidak lagi mengekspor kakao mentah karena tingginya kapasitas produksi pengolahan kakao di Indonesia.

JAKARTA – Pengusaha muda yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menyatakan, mereka siap memasok 20 persen kebutuhan kakao dunia. Artinya, jika pemerintah menargetkan produksi kakao nasional pada 2015 mencapai 1 juta ton per tahun, anggota Hipmi berpeluang memasok sekitar 200.000 ton per tahun.

“Hipmi siap memasok 20 persen kebutuhan kakao nasional, mulai 2015,” ujar Ketua Badan Otonom Bidang Bisnis, Investasi, dan UKM Badan Pengurus Pusat (BPP) Hipmi, Hardini Puspasari, di Jakarta, Selasa (19/5).

Ia mengakui, pernyataannya ini menyikapi tekad pemerintah Indonesia yang siap memasok kebutuhan kakao dunia, dari hasil Triannual Cocoa Dinner, yang berlangsung di Grosvenor Square, London, Inggris, Minggu (17/5).

Keyakinan Hardini didasari beberapa langkah yang telah dilakukan pemerintah, sekaligus juga menjadi program unggulan Badan Otonom Bidang Bisnis, Investasi, dan UKM BPP Hipmi. Pertama, melalui gerakan nasional peningkatan produksi dan mutu kakao (Gernas Kakao), produksi biji kakao Indonesia bisa mencapai 1 juta ton pada 2015-2016, dan membuat Indonesia sebagai negara produsen terbesar ketiga di dunia.

Menurutnya, Gernas Kakao merupakan salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan mutu hasil kakao nasional dengan mengoptimalkan seluruh pihak terkait dan sumber daya yang tersedia. Di sisi lain, Gernas Kakao akan meningkatkan pendapatan petani sebagai implikasi dari peningkatan produktivitas tanaman kakao.

Kedua, peningkatan luas lahan tanaman kakao yang terus ditambah. Jadi, ini bisa berdampak signifikan terhadap kapasitas produksi kakao. Ia mengatakan, hingga saat ini, luas lahan tanaman kakao di Indonesia mencapai 1.732.641 hektare (ha).

“Kami berharap, pemerintah bisa mendukung ketersediaan lahan bagi tanaman kakao yang digarap anggota Hipmi. Target kami, hingga akhir tahun ini, luas lahannya bisa mencapai 2 juta ha. Jadi, target mencapai 200.000 ton per tahun sangat optimistis tercapai,” katanya.

Ketiga, Hardini melanjutkan, pihaknya akan terus berupaya meningkatkan daya saing produksi Kakao milik anggota Hipmi bisa menjawab kebutuhan nasional, sekaligus kebutuhan dunia.

Langkah intensifikasi dan ekstensifikasi tanaman kakao akan ditingkatkan dengan metode pengembangan terbaik dan mengoptimalkan peran petani di lapangan.
Jika dari pasokan 200.000 ton per tahun saja, ia menambahkan, Hipmi bisa berkontribusi 30-40 persen terhadap pasokan dunia, akan semakin banyak petani yang kesejahteraannya meningkat.

Sebelumnya, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengatakan, kakao terbukti tidak bergolak menghadapi kondisi perekonomian dunia. Ini mengingat harga kakao justru semakin tinggi.

Bahkan JK mengemukakan, Indonesia berpotensi tidak lagi mengekspor kakao mentah karena tingginya kapasitas produksi pengolahan kakao di Indonesia.
Data pemerintah memproyeksikan, pada 2015, jumlah industri hilir olahan kakao dalam negeri bertambah menjadi 20 unit dari kondisi saat ini sebanyak 16 unit.
Kapasitas terpasang pada 2015 pun ditargetkan tumbuh menjadi 950.000 ton dari 580.000 ton pada 2011. Sementara itu, produksi olahan 2015 ditetapkan bertumbuh menjadi 700.000 ton dari 268.0000 ton daripada kondisi tahun 2011.

Sumber : Sinar Harapan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here