“Ngebul” di Branding for Disruptions

0
216
Setelah kembaran sama Pak Bi, foto-foto dulu dong

Ketika yang lain libur long weekend, 12 peserta workshop “Branding for Disruptions” yang terdiri dari pengusaha UKM dan profesional belajar lebih jauh lagi tentang branding dari Pak Bi. Bertempat di Hotel Amaroossa Residence Cipete, Jakarta Selatan pada tanggal 14-16 Mei 2015, peserta diberi beragam materi yang akan menghasilkan business plan di hari terakhir workshop. Nggak hanya itu, beberapa peserta mengaku berat badannya naik lho karena makanannya enak-enak 🙂

Setelah sarapan, hari pertama workshop Branding for Disruptions dibuka oleh Ibu Dwita selaku kepala Bukan Akademi. Setelah itu, peserta memperkenalkan dirinya masing-masing. Ada juga yang datang bersama pasangan, seperti Ibu Lani Hastiningtyas dan Pak Iswan Syarif dari LH Care dan Pak Al Arif dan Ibu Erdini Enggar dari Maksindo. Putri dari Ustadz Yusuf Mansur, Wirda Salamah, menjadi peserta paling muda. Selanjutnya, Pak Bi mereview mengenai dasar-dasar branding dilanjutkan dengan Branding for Disruptions.

CE72SPXUMAAqysw
Pak Bi mengulas All About Brand

Apa sih disruptions itu? Disruptions adalah perubahan radikal dlm industri, strategi bisnis dan hal lain yang terkait khususnya terkait dengan pengenalan produk atau servis baru yang juga menciptakan kategori pasar baru. Contohnya, program chatting gratis yang tersedia di hampir semua handphone keluaran terkini menggeser fungsi SMS yang menjadi sarana komunikasi utama bertahun-tahun yang lalu.

Dari workshop “Branding for Disruptions”, teman2 akan mendapatkan tiga pilar membangun usaha menurut Pak Bi yaitu tameng, tombak, terompet. Tameng adalah perlindungan brand dengan payung hukum, Tombak adalah business plan, dan Terompet adalah ilmu branding dan marketing.

Setelah makan siang, materi mengenai Branding for Disruptions dilanjutkan kembali. Hari pertama ditutup dengan sesi “My Story and all the Strategies Behind”, dimana Pak Bi bercerita mengenai pengalamannya menangani beragam brand-brand besar yang ada di Indonesia dan terkenal dengan tagline maupun lagu iklan (jingle) yang catchy. Selanjutnya, peserta membentuk empat kelompok untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pak Bi.

CE8l-MTVIAAbypw
Suasana kelas ketika Pak Bi menjelaskan tentang disruptions. Ada yang mencatat, ada juga yang ngantuk 😉

Setelah makan malam, peserta lanjut berdiskusi dengan kelompoknya dan juga Pak Bi. Selesai diskusi, lanjut diskusi lagi di Jakarta Coffee House sambil ngopi-ngopi lucu meskipun jam menunjukkan pukul 10 malam 🙂

Hari kedua dibuka dengan materi Business Plan oleh Pak Budi Isman. Dalam pembuatan business plan, target harus SMART: specific, measureable, attainable, relevant, dan time-bound. Kata Pak Budi Isman, nilai brand bisa diibaratkan sebagai nilai lukisan, tak ternilai harganya. Namun untuk mencapai nilai brand yang tinggi, diperlukan strategi dan perencanaan yang baik. Ada satu kata yang bagus banget, yaitu perfection is a journey – kesempurnaan merupakan sebuah perjalanan, yang penting mulai bikin plan!

Setelah makan siang dan sholat Jumat, materi berikutnya adalah HKI (Hak Kekayaan Intelektual) 101 oleh Ari Juliano, pengacara yang ahli dalam HKI dan juga Project Director Creative Commons Indonesia. Pengetahuan mengenai HKI juga penting untuk pelaku UKM. Tapi sebelumnya, apakah HKI itu?

HKI adalah hak yang timbul dari karya-karya yang lahir karena kemampuan intelektual manusia. Ini merupakan hak ekslusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak karyanya di bidang ilmu pengetahuan, seni, atau sastra, atau memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut pengaturan perundang-undangan yang berlaku. Hak cipta langsung berlaku ketika sebuah karya tercipta, lho.

Setelah sesi HKI berakhir, peserta dan panitia coffee break dan sholat Ashar dulu. Admin @BukanAkademi dan @RumahUKM mengadakan games kecil-kecilan untuk peserta, yaitu lomba makan estafet tahu kuning, donat Leagie dari Mbak Ayu (@jingga1507) dan kerupuk bulat. Dari tiga peserta, tiga-tiganya menang 🙂

Pukul 16:00, peserta masuk kelas lagi untuk mendengarkan materi internet marketing dari Empu Semprul. Di sesi ini, peserta diberi pengetahuan bagaimana caranya memanfaatkan situs sosial media yang tentunya nggak asing lagi untuk kita, Facebook, untuk kemajuan bisnisnya. Asyiknya lagi, seluruh peserta “Branding for Disruptions” mendapatkan keanggotaan gratis di website http://empusemprul.com/fb-marketing-class/!

Kepala sudah ngebul setelah seharian diberi materi, peserta istirahat dan makan malam dulu sebelum lanjut diskusi untuk persiapan presentasi brand plan esok harinya. Saat makan malam ada live music, Bu Lani dan Mas Isra turut menyumbangkan lagu. Kapan-kapan nyanyi lagi ya…

Setelah makan malam, peserta workshop berdiskusi dengan Pak Bi
Setelah makan malam, peserta workshop berdiskusi dengan Pak Bi

Hari terakhir, harinya peserta memberikan presentasi brand plan-nya. Ada yang dari fashion (Keke Busana), kecantikan (LH Care), kuliner (Ceker Neng Jebret), jasa pembelian dan pembayaran elektronik (Paytren) hingga personal dan politik (Ustadz Yusuf Mansur dan Matanusa) hingga manufaktur (Maksindo). Setelah presentasi, masing-masing peserta diberi komentar dan masukan dari Pak Bi, Bu Dwita, dan Pak Budi Isman.

Denty, editor website dan buku Ust. Yusuf Mansur sedang mempresentasikan brand plan-nya
Denty, editor website dan buku Ust. Yusuf Mansur sedang mempresentasikan brand plan-nya

Workshop “Branding for Disruptions” akhirnya berakhir setelah tiga hari berlangsung. Acara ditutup dengan pembagian goody bag, sertifikat, dan merchandise berupa topi dan kaos berwarna hitam agar semuanya kembaran sama Pak Bi 🙂

Setelah kembaran sama Pak Bi, foto-foto dulu dong
Wah semuanya kembar! 😛

Terima kasih kepada segala pihak yang mendukung terlaksananya workshop “Branding for Disruptions”. Sampai jumpa di kelas-kelas berikutnya!

backdrop3

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here