MEA Tantangan Sekaligus Peluang Bagi Kemandirian UKM

0
64

CIAMIS – Penerapan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang dimulai pada 31 Desember 2015, merupakan tantangan sekaligus peluang bagi kalangan usaha kecil menengah mengembangkan usahanya. Agar tidak tergusur, UKM ditunut lebih meningkatkan kualitas serta menjaga kekompakan bersama.

“MEA tidak perlu ditakuti, sebaliknya UKM harus siap menghadapinya. Agar dapat terus eksis, tentunya pelaku usaha lebih meningkatkan kualitas produksi. Faktor lain yang lebih penting adalah harus diciptakan kebanggaan terhadap produk nasional,” tutur Kepala Bidang Ekonomi Kreatif, Dinas perindustrian Perdagangan dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Ciamis, Agusyani, Selasa (19/5/2015).

Dia mengemukakan hal itu disela mengunjungi UKM Laksana Tri Karya, di Desa Panyingkiran, Kecamatan/Kabupaten Ciamis.

Dia memberi contoh hasil atau produksi tenun lidi yang dibuat UKM tersebut mampu menerobos keran ekspor. Selain tenun lidi, kerajinan mendong Ciamis juga terus dikembangkan.

“Tatar galuh Ciamis memiliki potensi kerajinan tangan atau handycrfat yang sangat besar untuk terus dikembangkan. Tidak hanya kerajinan tangan, berbagai aneka makanan olahan juga dapat bersaing dalam MEA,” ujarnya.

Agar dapat bersaing, dia menambahkan, pengusaha dituntut terus meningkatkan kualitas , serta membuat terobosan kerajinan tangan baru yang diminati oleh pasar luar negeri. Salah satu kunci keberhasilan tersebut, adalah meningkatnya sumber daya manusia.

“Semua sudah ada, baik SDM maupun bahan baku, jadi sekarang tinggal bagaimana meningkatkan saja. Produk sudah ada, sekarang bagimana cara mengemas dan penyajiannya. Hal tersebut juga harus mampu menarik pangsa pasar luar negeri,” tuturnya.

Selain orientasi ekspor, Agusyani menambahkan bahwa agar dapat bersaing dan berkembang, penguasaan pasar lokal juga harus diperkuat. Dengan demikian, produk sejenis dari luar, dapat tertahan dengan yang berasal dari daerah sendiri.

“Masyarakat juga memiliki andil besar dalam upaya meningkatkan ketahanan produk lokal, dari gempuran barang dari luar. Kebanggaan produk sendiri harus terus digenjot lebih kuat. Kampanye aku cinta produk Indonesia, juga harus selalu digelorakan,” katanya.

Dia mengungkapkan, bahwa pangsa pasar luar negeri terhadap hasil kerjainan tangan Indonesia, masih terbuka luas. Untuk Ciamis, misalnya kerajinan tangan dengan bahan baku lidi, mendong dan lain-lain.

“UKM harus mampu memanfaatkan kesempatan tersebut. Banyak produk hasil kerajinan tangan Indonesia yang diminati pangsa pasar luar negeri. Apalagi yang sifatnya natural,” ujar Agusyani.

Sementara itu, pemilik UKM Laksana Tri Karya, di Desa Panyingkiran, Ciamis, Asep Nurulhuda mengungkapkan bahwa produksi hasil kerajinan tangan Indonesia, tidak kalah menarik dibnadinghkan negara Asean lainnya. bahkan produk Indonesia banyak memiliki keunggulan dibandingkan lain.

“Produk kerajinan tangan Indonesia, tidak kalah dibandingkan negara lain, bahkan secara kualitas lebih unggul. Nah keunggulan tersebut yang tetap harus dipertahankan, bahkan lebih ditingkatkan,” ujarnya.

Dia mengatakan bahwa hasil kerajinan tenun lidi yang diproduksinya, sejak tahun 1999, mampu menembus pasar ekspor.

Saat ini, dia rutin mengirim beraneka macam barang kerajinan tangan yang bahan bakunya tenun lidi, ke Singapura dan Malaysia.

“Sebelumnya, saya juga ekspor ke Amerika Serikat. Artinya memang peluang untuk ekspor masih terbuka luas,” ungkap Ase Nurulhuda.

Dia mengungkapkan barang yang diproduksi di antaranya taplak meja, kotak besar untuk tempat menyimpan baju, kotak penyimpan file dan keping cakram atau CD, kotak tisu, kerai, dan lainnya. Umumnya konsumen tertarik dengan bahan baku serta warna yang natural.

“Hal tersebut juga sekaligus merupakan tantangan bagi pelaku usaha untuk lebih kreatif dalam menciptakan hasil kerajinan. kami juga terus berupaya mengembangkan gagasan, termasuk meningkatkan sumber daya manusianya,” tutur Asep Nurulhuda.

Sumber: Pikiran-rakyat.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here