Pemkab Purwakarta dan Rumah UKM Tandatangani Kerjasama

0
175

Purwakarta – Dalam rangka mengupayakan pengembangan UKM Purwakarta, Pemerintah Kabupaten Purwakarta menjalin kerjasama dengan Rumah UKM (Rabu 6/5). Kerjasama ini meliputi bidang edukasi, konsultasi, dan pendampingan UKM.

Dipilihnya Sate Maranggi oleh Pemkab untuk didorong menjadi icon Purwakarta dan menjadi penarik tamu datang ke Purwakarta bukan tanpa alasan. Meski Sate Maranggi tidak bisa dibilang asli Purwakarta (karena Cianjur juga memiliki Sate Maranggi) namun kehadirannya sudah sangat mengakar di Purwakarta. Salah satu yang terkenal adalah Sate Maranggi Cibungur milik Hj. Yetti. Tempat ini sudah seperti menjadi icon kota Purwakarta.

Selaras dengan visi Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang ingin jumlah pengusaha terus tumbuh di Purwakarta terutama dari generasi mudanya. Pendidikan generasi muda Purwakarta diharapkan berorientasi wirausaha. Bupati Dedi Mulyadi mengamati banyak generasi muda Purwakarta yang memiliki prestasi akademik bagus namun kurang produktif setelah menyelesaikan pendidikan.

“Anak tukang sate yang lulus ujian dengan nilai bagus tapi tidak bisa bikin sate ujung-ujungnya pengangguran, sebaliknya biar anak tukang sate lulus dengan nilai jelek tapi kalau bisa bikin sate, enak, kelak dia bisa jadi juragan sate,” ujar Dedi Mulyadi.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi juga ingin UKM di Purwakarta bisa menjadi raja di rumah sendiri dan juga mampu ‘Go International’. Dukungan dari Pemkab untuk gerakan ini dimulai dari pembinaan usia dini. Sebagai contoh, SMP 1 Purwakarta menyiapkan siswa-siswinya untuk membuka usaha dengan berlatih jualan, berternak, dan menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan bagi usahanya.

Kerjasama antara Pemkab Purwakarta dan Rumah UKM dimulai dengan dukungan bagi pedagang Sate Maranggi dan Ayam Bakakak khas Purwakarta. Pemkab berniat menyiapkan pendidikan Sate Maranggi beserta bahan-bahannya yang terstandardisasi agar terjamin kualitas bahan dan produknya. Hal ini juga bentuk upaya dari Dedi Mulyadi melestarikan sate khas Purwakarta yang merupakan aset bangsa supaya tidak punah, sekaligus menjadikan penjual Sate Maranggi siap menghadapi MEA sekaligus menjadikannya sebagai destinasi.

“Ilmu macam-macam diajarkan (di sekolah) tapi ilmu sate yang jadi kekayaan bangsa tidak diajarkan di sekolah. Saya khawatir karena ilmu sate tidak diajarkan di sekolah maka anak tukang sate tidak mau jualan sate, maunya kerja kantoran. Saya khawatir ilmu sate yang jadi aset bangsa bakal punah dari negeri ini karena dunia pendidikan tidak peduli. Upaya melestarikan ilmu sate bisa dimulai dari pelajar dengan mengajarkan cara memelihara kambing sampai dengan bakar sate,” ujar Dedi Mulyadi.

IMG-20150506-WA0006
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan Founder Rumah UKM Subiakto Priosoedarsono menandatangani kerjasama antara Pemkab Purwakarta dengan Rumah UKM

Kerjasama antara Pemkab Purwakarta dengan Rumah UKM secara resmi ditandai dengan penandatanganan kerjasama, Pemkab Purwakarta diwakili Bupati Dedi Mulyadi, dan Rumah UKM diwakili Founder Rumah UKM Subiakto Priosoedarsono. Subiakto yang juga dikenal pernah melambungkan banyak brand ternama di Indonesia sebagai praktisi branding menangkap potensi UKM Purwakarta agar bisa lebih baik lagi, terutama untuk pengusaha Sate Maranggi.

“Potensi ini harus dikembangkan. Supaya bisa dikenal juga secara nasional,” jelas Subiakto.

Salah satu upaya yang harus dilakukan, sebut dia, yakni dengan menjaga keaslian cita rasanya dari mulai bumbu dan bahan-bahan lainnya. Dengan begitu, Sate Maranggi Purwakarta akan terjaga keasliannya.

Sedangkan salah satu upaya memperkenalkannya adalah dengan membuat festival. Karena, rasa baru bisa diketahui setelah masakannya dicicipi. “Jadi, ketika orang mendengar kata Purwakarta, yang akan diingat itu Sate Marangginya,” lanjut Subiakto.

Sate Maranggi harus menjadi identitas Purwakarta. Tapi, sebelumnya harus ada standardisasi supaya tidak ada perbedaan yang terlalu kontras antara pedagang satu dengan pedagang lainnya. Jadi, ketika bilang Sate Maranggi, itu berarti Purwakarta bukan Plered atau Wanayasa. Menurut Subiakto, Sate Maranggi Purwakarta, memiliki kekhasan dibanding sate milik daerah lain seperti sate Madura atau Padang.

Dengan ditandatanganinya kerjasama antara Pemkab Purwakarta dan Rumah UKM, diharapkan perkembangan UKM di Purwakarta bisa tumbuh semakin pesat. Ke depannya, Purwakarta akan bertransformasi menjadi “Purwakarta Maranggi Cyber”, dimana semua penduduk terhubung untuk kegiatan jual-beli melalui akses internet. Momentumnya sangat tepat yaitu untuk menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun depan. Maka Komunal Brand di Purwakarta harus bangun dan saling bersinergi.

Rumah UKM sendiri punya tiga pilar untuk mendukung cita-cita UKM Purwakarta. Subiakto menerjemahkan tiga pilar kegiatan Rumah UKM dengan 3T, yaitu Tameng, Tombak, dan Terompet. Tameng adalah kegiatan melindungi UKM dari potensi tuntutan hukum, itu sebabnya Rumah UKM aktif memberikan edukasi, supervisi, dan advokasi.

Tombak adalah alat perang yang berarti UKM harus memiliki bekal pengetahuan produk yang baik, distribusi, jaringan, perbankan, dsb. Terompet berarti UKM harus aktif memperkenalkan produk dan jasanya melalui kegiatan marketing dan branding.

Semoga dengan adanya kerjasama antara Pemkab Purwakarta dengan RumahUKM menjadikan masyarakat Purwakarta modern dan open minded tanpa melupakan akar budaya Sundanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here