Mari Mengenal Kopi Indonesia

0
45

Pulau Sumatra, Jawa, dan Sulawesi dikenal oleh dunia sebagai penghasil kopi berkualitas. Kopi Indonesia secara keseluruhan memiliki karakter kaya, kuat (full body), dan tingkat keasaman rendah.

Kopi Indonesia terdiri dari kopi Arabica dan Robusta. Kopi jenis Arabica tumbuh dan berbuah pada ketinggian 1000 mdpl, sedangkan kopi Robusta pada ketinggian 400-800 mdpl. Khusus tanaman kopi Arabica, produksinya terbatas dikarenakan lahan dengan ketinggian di atas 1000 mdpl di Indonesia biasanya berupa hutan. Dari total produksi kopi 750.000 ton tahun 2012, kopi Arabica menghasilkan hampir 150.000 ton dari luas areal 250.000 hektar, sedangkan kopi robusta menghasilkan 600.000 ton dari luas areal 1,05 juta hektar.

Beragamnya jenis kopi dan melimpahnya hasil panen disebabkan oleh cuaca yang mendukung untuk pembungaan dan pembentukan buah kopi. Pengaruh cuaca merupakan faktor yang dominan dalam mempengaruhi tingkat produksi kopi nasional.

Tiga pulau utama penghasil kopi di Indonesia adalah Jawa, Sumatera, dan Sulawesi—dengan karakter yang beragam dari setiap daerah. Berikut beberapa jenis kopi Indonesia:

•    Kopi Jawa (Java coffee): Kopi jenis Arabica ini memiliki tingkat keasaman yang rendah karena dipengaruhi oleh kondisi tanah, suhu udara, cuaca, serta kelembaban udara. Sebenarnya cita rasa Kopi Jawa juga tidak sekaya kopi dari Sumatra atau Sulawesi, karena sebagian besar diproses secara basah (wet process). Meskipun begitu, sebagian kopi Jawa mengeluarkan aroma tipis rempah sehingga membuatnya lebih baik dari jenis kopi lainnya. Profil rasa Kopi Jawa adalah buah-buahan sesaat setelah diminum; kuat, pekat, dan manis. Sejak zaman kolonial Belanda, kopi ini sangat terkenal sehingga nama Jawa menjadi identitas yang melekat, bahkan di pasar Eropa dan Amerika hingga kini. Dari ketiga pulau utama penghasil kopi, Jawa adalah yang paling produktif. Produksi Kopi Jawa Arabica dipusatkan di tengah Pegunungan Ijen, di bagian ujung timur Pulau Jawa, dengan ketinggian pegunungan 1400 meter. Kopi ini dibudidayakan pertama kali oleh kolonial Belanda di abad 18 pada perkebunan besar.

•    Sumatra Mandheling (Mandailing) dan Sumatra Lintong: Kopi Mandheling dinamakan menurut suku Batak Mandailing, sedangkan Kopi Lintong dinamakan menurut nama tempat yaitu Distrik Lintongnihuta di barat daya Danau Toba, Sumatera Utara. Profil rasa Kopi Mandheling adalah aroma tanah (earthy), heavy body dengan aroma herbal, terasa coklat dan licorice. Kopi Lintong terasa manis dengan medium body, tingkat keasaman rendah, dengan aroma earthy (tanah).

•    Kopi Gayo (Gayo Coffee): dikembangkan oleh petani kopi di Dataran Tinggi Gayo. Gayo adalah nama Suku Asli di Aceh — yang meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues.  Kopi ini mempunyai aroma yang unik yaitu perpaduan antara aroma kakao, tembakau dan juga tanah. Tahun 1918, pemerintah Hindia Belanda menjadikan Kopi Gayo sebagai produk masa depan karena tingginya minat pasar mancanegara pada keunikan cita rasanya.

•    Sulawesi Toraja Sapan dan Kalosi: Kopi ini ditanam di daerah pegunungan tinggi Toraja di Sulawesi. Kopi Toraja umumnya tumbuh pada ketinggian 5000 kaki. Nama Kopi Toraja Sapan berasal dari nama tempat di Sulawesi yang merupakan tempat pengumpulan kopi yang ada di daerah sekitarnya. Sedangkan, Kalosi adalah nama kota kecil di Sulawesi. Sama dengan Sapan, Kalosi merupakan tempat pengumpulan kopi dari daerah di sekitarnya. Kopi dari Sulawesi ini memiliki aroma caramel, coklat, dan buah-buahan; serta tingkat keasaman yang seimbang (agak sedikit lebih kuat dari kopi Sumatra). Karena proses produksinya, kopi ini dapat mengering secara tidak teratur. Walau demikian biji yang bentuknya tidak teratur ini dapat memperkaya rasanya. Perdebatan mengenai kopi Toraja Kalosi adalah karena tidak berasal dari tempat yang sama, sehingga tidak bisa disebut sebagai single origin.

•    Papua Wamena: Kopi jenis Arabica ini berasal dari lembah Baliem, di tengah dataran tinggi Jayawijaya yang mengelilingi kota Wamena. Kopi Papua Wamena memiliki aroma caramel dan bunga-bungaan dan terasa coklat dengan sentuhan tembakau ketika diminum. Ciri lainnya adalah kekentalan tinggi, keasaman rendah dan kandungan kafein dari kopi ini merupakan yang paling sedikit dibandingkan dengan kopi Arabika lainnya. Uniknya, tanaman kopi Papua Wamena bisa tumbuh subur tanpa bantuan pupuk.

•    Kopi Kintamani: Kopi dari jenis Arabica ini berasal dari dataran tinggi Kintamani di Pulau Bali. Kopi Kintamani diperoleh dari perkebunan yang menggunakan sistem pengairan subak yang umum diterapkan di Bali, tumbuh dengan subur di tanah vulkanis pada ketinggian 900 mdpl. Oleh penggemar kopi dunia, kopi Kintamani dikenal sebagai origin coffee atau kopi asli Indonesia. Kintamani memiliki aroma dark chocolate, jeruk dan lemon dengan rasa yang manis.

 

Sumber:

http://www.ncausa.org/i4a/pages/index.cfm?pageid=75

http://www.aeki-aice.org/page/areal-dan-produksi/id

http://www.theroasterie.com/coffee/origin/indonesia

http://www.kopistory.com/jenis-kopi

http://www.espressocoffeeguide.com/gourmet-coffee/asian-indonesian-and-pacific-coffees/indonesia-coffee/sumatra-coffee/sumatra-mandheling-coffee/

http://id.wikipedia.org/wiki/Kopi_Sumatera#Kopi_Gayo_Aceh

http://aromakopi.com/tag/kopi-toraja/

http://www.specialtycoffee.co.id/kopi-papua-wamena/

http://aromakopi.com/tag/kopi-toraja/

http://papuacoffees.com/page/profil-kopi-papua.html

http://www.specialtycoffee.co.id/kopi-bali/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here