IPB Coba Tingkatkan Kapasitas Pembudidaya Jamur Tiram

0
21
Jamur Tiram (ilustrasi)

BOGOR — Jamur tiram (Pleurotusostreatus) merupakan jamur pangan yang pembudidayaannya terus meluas terutama di Indonesia, pasarnya pun masih tumbuh secara nyata.

Dalam rilis yang diterima Republika Online, Senin (13/4) Peneliti dari Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPSHB-LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB), Aris Tjahjoleksono, bersama dengan peneliti dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuaan Alam (FMIPA) IPB, Muhammad Jusuf dan Sri Listiyowati melakukan riset terhadap Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bergerak di bidang produksi jamur tiram, lebih tepatnya terkosentrasi pada media tumbuh jamur (bag log).

Minyak tanah yang digunakan untuk proses sterilisasi bag log yang mengalami peningkatan dan kelangkaan, ditambah dengan proses produksi yang tidak efisien menyebabkan UKM mengalami kerugian. Untuk mencapai produksi yang menguntungkan, perlu kemampuan produksi bag logĀ  minimal 500 bag logĀ  per hari. Produksi bag log yang belum mencapai standar ini dikarenakan berbagai faktor seperti kontaminasi tinggi dan cara pembuatan bag log yang masih manual sehingga kualitas bag log tidak seragam.

Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi bag log, meningkatkan kualitas bag log, serta mengurangi tingkat kontaminasi pada bag log.

Beberapa metode dilakukan pada penelitian ini, mulai dari pelatihan personil UKM, perancangan dan introduksi alat, hingga perbaikan kondisi pemeliharaan, termasuk di dalamnya pemberian pengetahuan tentang Biologi jamur Tiram, penyiapan media bibit, dan pembibitan jamur tiram. Keterampilan personil UKM ini ditunjang dengan perancangan peralatan seperti pengayak bahan media yang dibuat dari bahan kawat kasa dan kayu, pemadat bag log dengan bahan dasar logam, dan alat sterilisasi bag log yang dipisahkan setiap bagian-bagiannya (tungku pemanas berbahan bakar kayu, tandon air, tabung pemanas air, dan ruang sterilisasi).

Alat yang diintroduksikan adalah molen beton (concrete mixer) yang digunakan untuk mencampur bahan media, alat ini diintroduksikan ke UKM untuk mengefisiensikan pengadukan. Keterbatasan produksi UKM sangat berkaitan dengan kemampuannya yang rendah dalam menyiapkan peralatan (pengayak dan pencampur bahan) dan juga kapasitas sterilisasi bag log.

Melalui penelitian yang mengintroduksikan molen beton, kapasitas produksi bag log meningkat dari 300 menjadi 1000 bag log per hari, kapasitas sterilisasi meningkat dari 250 bag log dalam satu proses sterilisasi menjadi 700 bag log, waktu yang dibutuhkan untuk satu proses sterilisasi dipersingkat dari 24 jam menjadi kurang dari 12 jam, bobot rata-rata per bag log meningkat dari 800 gram menjadi 1000 gram, serta tingkat kontaminasi dapat diturunkan dari 25 persen menjadi 1 persen.

Modifikasi cara budidaya jamur tiram dengan penerapan teknologi sederhana dapat meningkatkan efisiensi, kualitas, dan kapasitas produksi media tumbuh jamur. Selain itu, penjarangan bag log di dalam ruang sterilisasi dapat menurunkan tingkat kontaminasi pada bag log siap pakai. Adanya modifikasi cara dan introduksi peralatan, diharapkan budidaya jamur tiram yang dilakukan UKM dapat berjalan dengan efisien, efektif, dan menghasilkan produksi yang maksimal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here