Soekarwo: Jatim Siap Jadi Pemenang di MEA 2015

0
219

Malang (BM) – Jelang pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir 2015, Pemerintah Provinsi Jawa Timur optimistis bisa melaluinya dengan baik. Bahkan yakin akan menang dalam kompetisi di pasar bebas ini. Hal ini diungkapkan Gubernur Jatim Dr H Soekarwo, saat memberikan paparan di Universitas Brawijaya (UB) Malang, Kamis (26/3).

Menurut Soekarwo, untuk menang semua elemen tidak boleh melupakan budaya lokal. Selain itu, sentuhan kreativitas pada produk lokal juga harus dilakukan untuk menambah daya saing di pasar bebas nantinya. Gubernur yakin, hal ini bisa ditangkap oleh generasi muda khususnya para mahasiswa di Jatim.

Karenanya dengan diberlakukannya MEA diharapkan muncul pebisnis-pebisnis tangguh. Karena pemberlakuan MEA ini merupakan peluang dan sebuah tantangan yang harus dihadapi. Apalagi Jatim memiliki potensi besar dengan luas wilayah 47,154 km2 yang terbagi dalam 38 Kabupaten/Kota dengan 655 Kecamatan serta 8.499 Desa. Ini lebih baik dengan ditunjang SDM yang luas biasa besar yakni 38 juta jiwa dan didukung dengan stabilitas Jatim yang sangat baik.

Di sisi kinerja ekonomi, menurut Pakde Karwo kontribusi Jatim terhadap nasional nomor dua setelah DKI. Jatim sebesar 14,61 persen, sementara DKI 16,17 persen. Namun itu karena semua kantor pusat perusahaan besar atau asing berada di Jakarta, sehingga pajak atau penghasilan masuk ke DKI meskipun operasionalnya berada di Jatim. “Itulah yang menjadikan DKI menang satu tingkat dari Jatim,” tegas Pakde di hadapan utusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jatim ini.

Standardisasi Produk Industri untuk Hadapi MEA

Sementara itu agar produk tak ketinggalan dari negara lain, Jatim membuat progres standarisasi produk industri. Program ini dimulai sejak tahun 2013. Dimulai tahun 2013 lalu yakni produk keripik apel, salak dan keripik mangga.

Sedang untuk tahun 2014 produk lokal lainnya masih diverifikasi, tapi terus dilakukan bimbingan. Dan sertifikasi ISO 9001–2008 sudah dimiliki 37 perusahaan dalam kurun waktu  2008 hingga 2013. Sedangkan saat ini jumlah usaha kecil menengah (UKM) di jatim sudah  mencapai 6,8 juta.

Bila dilihat dari ukuran atau size ekonomi dalam konstilasi ASEAN, perekonomian Jatim hampir setara dengan dua pertiga perekonomian Vietnam atau hampir 2,5 kali lebih besar dibanding gabungan Laos, Kamboja, Timor Leste dan Papua Nugini. Yakni; Laos (0,36 persen), Papua Nugini (0,54 persen), Kamboja (0,82 persen) dan Timor Leste (0, 5 persen). Sedang Jatim sebesar 4,16  persen.

Untuk menghadapi tantangan dan peluang pada pasar global, Pemprov Jatim juga siapkan SDM yang memiliki keahlian. Salah satunya mendirikan 70 SMK Mini dengan sembilan jurusan atau bidang keahlian yang dibutuhkan di bursa tenaga kerja khususnya perusahaan.
Tiap kelas di SMK Mini diikuti 30 siswa. Untuk tahun 2015 ini total jumlah SMK Mini di Jatim mencapai 100 unit. Dengan jumlah ini berpotensi mampu menyediakan tenaga kerja terampil baru sebanyak 15.300 orang.

Sumber: beritametro.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here