Endang Titik Utari, Layani Katering Resepsi hingga Haji

0
43
endang
Dok. Timlo.net

Solo – Ketika jasa katering kian marak di Kota Solo, Aulia Milano justru hadir dengan diferensiasinya. Di bawah kemudi Endang Titik Utari, brand katering inipun dalam waktu singkat mampu bertengger di papan atas dan menjadi rekomendasi para klien.
Namun siapa sangka katering tersohor seperti Aulia Milano awalnya hanya dari bisnis rumah tangga kecil-kecilan. Semula produk garapannya seperti snack cuma dititipkan di toko-toko roti. Kalaupun ada pesanan, itu datang dari tetangga sekitar.

Meningkatkan awareness sebuah brand baru memang bukanlah perkara mudah. Kreativitas, inovasi dan ide-ide segar pun menjadi jawabannya. Hal itu disadari betul oleh Endang Titik Utari, sosok penting dibalik kesuksesan Aulia Milano.

Setelah memutuskan pensiun dini dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), Ninuk begitu dia akrab disapa bertekad bulat mengembangkan bisnisnya. Segala resep masakan maupun makanan ringan pun ia pelajari untuk dipraktikkan.

“Saya buka katering karena hobi, terus saya banyak belajar. Apa yang saya tidak bisa saya coba untuk belajar. Jadi akhirnya banyak kue yang kami bisa terus kami bikin menu-menu baru, kue-kue baru,” kata ibu dua anak ini dalam perbincangan dengan Timlo.net.

Melihat tantangan dan peluang pasar terbuka lebar, Ninuk pun tak segan-segan mendobrak pakem katering pada umumnya. Alhasil, aneka snack jajanan tradisional dalam kemasan tampah (nampan dari anyaman bambu-red) sukses diluncurkan dan mendapat respon antusias konsumen.

Setelah satu dasawarsa lebih, tepatnya pada 2003 silam memulai usaha, kini sudah banyak varian produk berhasil dikembangkan Aulia Milano. Selain menu-menu prasmanan, menu nasi dus ataupun menu racikan, brand katering beralamat di Jl Slamet Riyadi Pijilan, Makamhaji Kartasura ini juga menyediakan aneka snack. Tak hanya snack tradisional dan hantaran saja, ada pula bakery, pastry, cake, soes dan puding serta masih banyak lagi.

“Menu untuk kue jenisnya seratus lebih, begitu juga menu masakan banyak juga mencapai 50 lebih. Sekarang ini saya memang lebih fokus ke snack tradisional karena memang banyak yang suka dan tidak membosankan, sekaligus untuk mengenalkan juga ke anak-anak muda,” ungkap Ninuk.

Memahami kebutuhan pasar, wanita sempat berkarir di perbankan selama sepuluh tahun ini berusaha menyediakan produk halal bagi konsumen. Ninuk memang tak main-main dengan urusan satu ini, mulai peralatan hingga bahan-bahan digunakan, seluruhnya harus memenuhi unsur higienis dan halal.

Baginya, awareness konsumen harus dibangun lewat konsep sesuai syariah. Alhasil, racikannyapun dilirik banyak kalangan untuk berbagai acara resepsi, termasuk melayani ribuan jamaah haji di Embarkasi Donohudan selama tujuh tahun berturut-turut.

Pesananpun mengalir deras dari pemerintah Kota Solo, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), kantor perbankan, korporat hingga perhotelan. Tercatat sudah sepuluh hotel lebih di Kota Bengawan menggunakan jasa katering Aulia Milano, mulai hotel nonbintang hingga hotel bintang lima.

Bersama 20 karyawan, Ninuk terus mengembangkan bisnisnya hingga berhasil merambah Semarang, Yogyakarta dan Jakarta. Alumnus sebuah akademi perbankan di Yogyakarta ini tampaknya memang ingin menjadikan Aulia Milano sebagai brand terdepan, menyasar segmen menengah ke atas.

Tak pelak, brand diambil dari nama anak kedua ini selalu turut berpartisipasi dalam berbagai event kota seperti Solo Culinary Festival dan Solo International Performing Arts (SIPA). Hasilnya, Aulia Milano terus memperlihatkan performa gemilang dengan mencatat pertumbuhan rata-rata 50 persen pertahun.

“Bisnis katering memang semakin maju, order semakin banyak, bahkan kalau Sabtu dan Minggu itu kami terpaksa sampai sering menolak pesanan,” kata Ninuk.

Buah kerja keras wanita yang aktif dalam berbagai pengajian ini memang telah menghasilkan rasa manis. Kendati bisa dibilang bisnisnya sudah autopilot, namun Ninuk masih tetap concern dengan branding dan pemasaran. Partnership menjadi salah satu cara kampanye offline, selain promosi lewat berbagai media sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram.

“Saya masih punya obsesi untuk membuka outlet agar masyarakat semakin banyak yang tahu. Saya juga berharap Aulia Milano bisa mensejahterakan banyak orang, membantu tetangga, sehingga mereka bisa mandiri secara ekonomi,” tutup wanita kelahiran Blitar 51 tahun silam ini.

Sumber: Timlo.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here