Optimalkan Sektor Kewirausahaan

0
21

Kini, bangsa Indonesia tengah dirun­dung berbagai ma­salah, seperti politik, pendidikan, sosial, dan juga ekonomi. Dan perlu dipahami bersama bahwa dalam menghadapai semua permasalahan itu, bangsa Indonesia harus tetap fokus dalam pembangunan Indonesia demi meraih kesejahteraan rakyat. Dalam konteks ini, ekonomi menjadi satu sektor yang tidak boleh terlupakan oleh siapapun, baik pemerintah maupun masyarakat.

Sebab, kondisi perekonomian Indonesia saat ini bisa dikatakan dalam keadaan gawat darurat. Terbukti, angka kemiskinan masih tinggi, pengangguran dan PHK semakin ramai, sehingga kriminalitas pun semakin menjadi. Ditambah lagi,, seb­agaimana perkataan Surya Chandra, anggota DPR Komisi IX, kita semua harus menyadari bahwa sistem eko­nomi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan bonus demografi telah mengiringi In­donesia hingga puncaknya pada tahun 2020/2030.

Artinya, kehadiran momentum MEA dan bonus demografi akan sangat mempengaruhi perkembangan ekonomi Indonesia. Apabila kita mau segera membuka mata lebarlebar dan berusaha dengan maksimal, kita akan berpeluang besar dapat meraih berkah kedua momentum tersebut. Begitu pula sebaliknya. Apabila kita terlena dengan kesenangan semu dan “puas” dengan kondisi perekonomian kita sekarang, tidak mustahil banyak rakyat Indonesia akan mengalami kegagalan besar di masa mendatang. Oleh karena itu, sejak detik ini, kita semua harus berkomitmen untuk mempersiapkan segala sesuatu terutama dalam sektor ekonomi dalam menghadapi tantangan itu semua agar rakyat Indonesia tidak “menangis” di akhir episode nanti. Akibatnya, angka kemiskinan, pe­ngangguran, dan PHK akan semakin bertambah.

Dalam rangka meraih kesuksesan momentum tersebut, perlu kita ketahui bersama bahwa dalam sektor ekonomi masih ada banyak aspek yang masingmasing mempunyai masalah serius yang bersifat harus segera diselesaikan dengan tuntas, salah satunya ialah sektor kewirausahaan. Di lain sisi, Badan Perencanaan Pem­bangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2035 mendatang berjumlah 305,6 juta jiwa. Jumlah ini meningkat 28,6 persen dari tahun 2010 yang sebesar 237,6 juta jiwa.

Dengan berdasarkan kondisi tersebut, maka mengoptimalkan sektor kewirausahaan  menjadi “kunci jitu” solusi konkrit masalah perekonomian Indonesia saat ini hingga di masa mendatang. Hal ini selaras dengan pandangan Dahlan Iskan, Menteri BUMN di era SBY, mengatakan bahwa saat ini Indonesia sedang butuh sekitar 500.000 pengusaha per tahun untuk bisa menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang unggul dalam aspek ekonomi. Selain itu, Purwanto, Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), juga berpendapat bahwa dalam berupaya memperkuat ketahanan ekonomi yang tidak mudah karena kompleksitas permasalahan perekonomian yang bersifat dinamis, kewirausahaan menjadi salah satu ruang lingkup solusi masalah ekonomi Indonesia.

Berdasarkan data yang dihim­pun penulis, pada tahun 2007 jumlah wirausahawan di Amerika Serikat telah mencapai 11,5 persen wirausahawan, Singapura 7,2 persen, sementara Indonesia baru memiliki 400.000 orang atau hanya 0.18 persen dari total penduduk Indonesia. Padahal, Menurut Peter Drucker diperlukan sekitar 2 persen wirausaha (inovatif) dari total jumlah penduduk untuk menjadi negara maju. Kewirausahaan memiliki peran dalam pembangunan ekonomi suatu bangsa yaitu sebagai pencipta kesempatan kerja baru, penghasilan baru, inovasi baru, dan pembayar-pembayar pajak baru.

Dalam perealisasiannya, diperlukan langkahlangkah konkrit yang strategis, inovatif, konstruktif, nan futuristik. Langkah ini harus dilakukan oleh kedua belah pihak yang saling besinergi, yaitu antara pemerintah dan rakyat. Untuk pihak pemerintah, pertama, harus mendorong sektor kewirausahaan. Upaya ini bisa dilakukan dalam beberapa langkah. Pertama, mendorong Usaha Kecil dan Menengah (UKM) agar bisa optimal. Terkait dengan itu, pemerintah harus mampu membuat kebijakan yang prorakyat. Hal ini sejalan dengan pandangan Purwanto, bahwa kebijakan pemerintah harus bisa menjembatani pembentukan para wirausahawan yang handal bagi penciptaan lapangan kerja baru di sektor riil. Jangan sampai karena kecorobohan pihak pemerintah dalam menyusun kebijakan rakyat menjadi sengsara karena mereka “tercekik” akibat kebijakan yang merugikan mereka.

Kedua, menyebarluaskan pendidikan gratis tentang kewirausahaan kepada seluruh lapisan masyarakat. Selama ini, pelaksanaan pendidikan kewirausahaan masih belum maksimal karena hanya disampaikan di bangku kuliah. Padahal tidak seluruh rakyat Indonesia mengenyam bangku perkuliahan. Artinya, dalam hal ini muncul ketimpangan dari kebijakan pemerintah. Sebab, hanya kalangan sarjana yang memperoleh pendidikan kewirausahaan. Oleh sebab itu, pemerintah harus segera mela­kukan pembaharuan kebijakan tentang penyebarluasan pendi­dikan kewirausahaan kepada sluruh lapisan masyarakat dan harus dipastikan, terutama kepada masyarakat yang se­dang menjalani profesi berwi­rausaha.

Pendidikan tersebut tidak hanya berupa materi untuk penyadaran akan urgensi kewirausahaan bagi kemajuan Indonesia, akan tetapi yang lebih penting adalah pendidikan berwirausaha secara fakta di lapangan, misalnya dengan memberikan pelatihanpelatihan khusus kewirausahaan kepada masyarakat. Selanjutnya pemerintah mengadakan bimbingan berkala untuk memastikan bahwa peserta didik telah berhasil menjadi wirausahawan handal dan sukses. Dengan begitu, diharapkan ke de­pan lahir para wirausahawan profesional dan kreatif di tanah air ini.

Ketiga, peminjaman modal tak berbunga kepada rakyat. Bagaikan menegakkan tali yang basah jika setelah pemerintah menyuguhi kebijakan kewirausahaan yang tepat kepada masyarakat dan memberikan pendidikan namun justru pemerintah tidak mengabaikan satu hal penting, yakni membantu meringankan masyarakat dalam berwirausaha dengan memberikan pinjaman modal tanpa bunga. Jika disadari, ini langkah yang tidak kalah penting untuk direalisasikan. Sebab, fakta di lapangan bahwa sebenarnya banyak masyarakat ingin beriwirausaha, namun dalam hal modal.

Sedangkan solusi dari pihak rakyat yaitu mereka harus sadar untuk senantiasa meningkatkan kuantitas dan kualitasnya untuk berwirausaha. Semangat bewirausaha harus selalu mereka kobarkan untuk tetap menyelimutinya. Indikatornya, rakyat mau bersinergi dengan program-program pemerintah untuk menunjang kewirausahaan. Dengan sinergitas yang solid dan kuat, tak mustahil perekonomian Indonesia akan menjadi lebih maju dan unggul dari pada bangsa lain. Semoga, itu semua bias terealisasikan dengan konsisten, sehingga manfaatnya akan berimplikasi pada kesejahteraan rakyat. Dengan begitu, Indonesia akan menjadi bangsa yang berdikari. Wallahu a’am bimrodihi.

Sumber: harianhaluan.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here