UKM di Batam Babak Belur akibat Elpiji 3 Kg Langka

0
64

BATAM – Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Kota Batam, Kepulauan Riau, babak belur akibat proses produksi dan usaha mereka terganggu kelangkaan gas elpiji 3 kg.

Wakil Ketua Bidang Wakil Ketua Bidang UKM dan Koperasi Kadin Batam, Syarifudin Andi Bola mengungkapkan, kelangkaan gas elpiji berdampak signifikan terhadap industri UKM di tengah harga bahan pokok yang terus melambung.

“Masalahnya sekarang UKM menjerit, banyak lapor mereka enggak bisa jualan dan omzet mereka terganggu,” ujarnya, Selasa (21/1/2015).

Meski belum memiliki data penggunaan elpiji 3 kg oleh UKM, dia mengungkapkan banyak UKM yang melapor agar dapat difasilitasi mendapat elpiji 3 kg. UKM juga sebenarnya tidak keberatan harga elpiji dinaikkan

“Harga naik tidak masalah, tapi harus dijamin tidak ada kelangkaan. Jangan asal mau naik saja,” katanya.

Menurut Andi, selama ini masalah terbesar yang dihadapi pelaku usaha UKM di Batam adalah minimnya pasokan dan ketersediaan elpiji yang kerap berujung terjadinya kelangkaan. Sehingga, kenaikan harga tidak dilihat terlalu masalah selama kelangkaan tidak terjadi.

Andi juga menyebutkan elpiji 3 kg menjadi komponen penting dunia UKM jika melihat jumlahnya yang ada di Batam. Meski tidak ada data terbaru dari Kadin, menurutnya jumlah UKM yang menggunakkan elpiji 3 kg mencapai 9.500 pelaku usaha.

“Jumlahnya banyak sekitar 9.500 UKM yang menggunakkan elpiji,” ungkapnya.

Sales Executive Elpiji Pertamina Kepri, Agung Nurhananto mengatakan pihaknya akan menambah pasokan elpiji 3 kg mulai akhir Januari sebesar 80 ribu tabung per bulan atau dua kali lipat dari pasokan normal.

Langkah itu untuk mengatasi kelangkaan elpiji. Dia juga memastikan pasokan selama ini dalam level normal.

Pasokan harian untuk konsumsi di Kepri tercatat mencapai 40 ribu tabung. Pertamina juga sudah menambah 30 ribu tabung. “Ada tambahan pasokan 80 ribu tabung per bulan untuk Kepri,” katanya.

Selain elpiji 3 kg, pihaknya juga akan menambah pasokan untuk 12 kg dengan melihat perubahan realisasi pasokan sepanjang Januari yang tercatat sebanyak 2.000 tabung. Adapun selama Januari pasokan 12 kg masih stabil dan cenderung ada peningkatan dari Desember 2014.

“Intinya pasokan 12 kg normal, justru ada peningkatan. Berapa peningkatannya masih dipantau karena lagi berjalan,” ucapnya.

Meski demikian, dia belum mendapat laporan resmi dari Pertamina pusat mengenai pengajuan tambahan kuota dari Pemerintah Kota Batam. “Saya belum tahu karena belum ada informasi dari pusat,” ujarnya.

PT Pertamina Kepri, lanjutnya, juga telah menerapkan sistem monitoring elpiji 3 kg, guna mencegah penyelewengan gas bersubsidi itu sampai ke tingkat pangkalan.

Pengembangan sistem monitoring itu bertujuan agar pihaknya memiliki data sampai ke tingkat pangkalan untuk mengetahui berapa tingkat konsumsi masing-masing pangkalan, pasca kenaikan harga gas elpiji 12 kg.

Dibentuk pula sistem bernama SIMOL3G (Sistem Monitoring Elpiji 3 kg) untuk menganstisipasi kekhawatiran migrasi konsumen dari elpiji 12 kg ke 3 kg.

“Sistem ini untuk mengetahui penerimaan dan pengeluaran gas elpiji, apakah benar disalurkan ke masyarakat atau disalahgunakan kami bisa mengetahui,” tandasnya.

Sumber: Sindonews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here