Produksi Batubara Samarinda Anjlok, Nusyirwan Bertekad Genjot UKM

0
10

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Saat meninjau Samarinda Exibition yang digelar di GOR Segiri Samarinda, 15-18 Januari 2015, Wakil Walikota Samarinda, Nusyirwan Ismail, sempat mengamati sejumlah produk-produk lokal, yang merupakan hasil UKM dan industri kecil di Kota Samarinda. Industri kecil tersebut merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan.

Potensi pertambangan batubara yang selama ini selalu menjadi incaran masyarakat sedang mengalami penurunan, bahkan terjadi sejumlah PHK yang dialami pekerja di perusahan tambang batubara. Sedangkan UKM dan industri rumah tangga masih terus bertahan.

“Pada ulang tahun Kota Samarinda dan Pemkot Samarinda ini, fokus ke diversifikasi sumber ekonomi warga. Aktivitas batubara saat ini turun 50 persen, sementara itu kita memiliki UKM dan industri kecil yang tetap bertahan dan menciptakan kreatifitas di kota jasa ini,” paparnya, di Samarinda, Kamis (15/1). (Baca juga: Perusahaan Tambang Batubara Samarinda Mulai PHK Karyawan).

Menurutnya, UKM dan industri rumah tangga perlu ditingkatkan lagi untuk mendukung ekonomi warga. Karena itu penguatan dan pembinaan industri kecil perlu terus dilakukan pemerintah. Dia mencontohkan sejumlah hasil industri kecil yang ditampilkan dalam pameran itu. (Baca terkait: Kisah Pengusaha Muda yang Awalnya Heran Lihat Sarung kok Dijadikan Baju)

“Seperti tas rotan itu, setelah dianyam berbetuk tas kemudian diberi warna coklat yang menarik. Kemudian ada sarung tenun dan ada batik yang sudah berkembang. Batik itu milik Indonesia. Kita perlu untuk memperbanyak motif baru. Setelah berwisata ke Samarinda, wisatawan dapat membawa oleh-oleh Batik Samarinda,” jelasnya.

Saat disinggung mengenai hak paten suatu produk, Nusyirwan mengatakan hasil industri kecil dan UKM merupakan suatu produk seni budaya. Setiap produk seni budaya memiliki ciri khas masing-masing, yang menjadi identitas dari produk serta komunitas yang membuatnya.

“Kalau paten itu individu, sedangkan produk seni budaya itu milik komunitas. Jadi, tidak bisa dipatenkan. Jenis sarung itu banyak di Indonesia, namun tenun sarung Samarinda tidak bisa disaingi, karena sutra dan coraknya yang khas,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Samarinda, M. Yamin, mengatakan, saat ini ada sekitat 36.000 lebih UKM di Kota Samarinda yang dibina oleh koperasi maupun pihak swasta. Dia mengatakan ada seratusan UKM yang timbul dan dibina SKPD-nya setiap tahun.

“UKM-UKM yang dibina koperasi itu tentu diberikan pelatihan. Kita juga selalu mengangkat UKM-UKM yang baru dalam setiap pameran yang kita ikuti, untuk memperkenalkan mereka, seperti anyaman manik tlapak meja dan motif kalimantan dab juga ukiran-ukiran dengan kreasi murni mereka ini,” jelasnya.

Pameran Pembangunan Kota Samarinda yang berlangsung selama empat hari itu diikuti oleh 42 SKPD dan 20 UKM di Kota Samarinda. Samarinda Exibition merupakan salah satu acara yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT Kota Samarinda ke 347 dan HUT Pemkot Samarinda ke 55.

Sumber: Tribunnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here