Jualan lewat Instagram: Efektif atau Tidak?

0
171

Coba perhatikan Instagram para selebriti atau pesohor Indonesia saat ini. Di tengah komentar yang jumlahnya ribuan di foto yang diunggah seorang selebritis, pasti tersempil komentar-komentar seperti “Cek igku yuk”, “Halo mbak cantik, aku mau endorse jilbab, boleh?” atau yang akhir-akhir ini sering muncul: “Bunda ingin cepat hamil?”

Komentar seperti ini sangat menganggu hingga beberapa selebriti seperti penyanyi Raisa maupun presenter Sarah Sechan bahkan beramai-ramai memasang peringatan block akun online shop yang spamming di profilenya. Bukan hanya mengganggu si artis pemilik akun, tapi para followernya juga. Komentar-komentar seperti “Aduh kakak cantik banget sih! [emoji]” akhirnya ketutupan sama “Cek ig aku yuk jualan tas bermerk 15ribu aja lho!”. Entah yang melakukan benar-benar spamming ke setiap postingan si artis atau secara otomatis menggunakan program spam. Bukannya dapat pelanggan baru, yang ada akun jualan diblok oleh yang bersangkutan.

Jualan di Instagram atau platform media sosial lainnya memang menjadi pilihan berbisnis yang paling populer saat ini. Dengan bermodalkan hashtag atau tanda pagar tertentu, pengguna media sosial dengan mudah mendapatkan barang yang mereka incar. Pengguna media sosial biasanya juga mengikuti para idolanya. Nah, karena selebritis memiliki pengaruh yang besar baik di fans maupun pengguna media sosial secara umum, barang yang mereka kenakan seringkali menjadi tren. Contohnya, tren cover smartphone dengan bentuk yang unik, produk rias impor, hingga catering makanan sehat.

Para penjual barang yang dipakai selebritis pun mendulang untung. Metode endorsement untuk saat ini dinilai cukup efektif. Promosi dengan mengendorse selebritis ini tidak hanya cepat dan tidak mengeluarkan banyak biaya, namun juga langsung menuju ke calon pembeli—dalam hal ini followers si artis yang bersangkutan. Penjual atau pemilik produk memberikan produknya secara gratis ke selebritis dan sebagai balasannya, ia harus mengunggah fotonya yang sedang memakai produk tersebut ke media sosial seperti Twitter atau yang paling populer Instagram. Selebritis juga harus mention akun penjual atau pemilik produk.

Kini bahkan tidak hanya selebritis yang bisa diendorse. Dengan berkembangnya sosial media dari waktu ke waktu, blogger maupun selebgram (orang yang terkenal di Instagram) memiliki follower yang bisa mencapai puluhan ribu. Para blogger maupun selebgram ini juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap followers-nya di dunia maya. Apabila mereka mempromosikan sebuah produk, followers-nya akan tertarik untuk beli agar bisa kembaran dengan panutannya.

Sisi negatif dari cara promosi endorsement ini adalah pasar menjadi sangat tersegmentasi, yaitu terbatas pada mereka yang mengikuti akun selebriti maupun blogger atau selebgram. Tak jarang pula harga produk, meskipun lokal atau buatan rumah (homemade), masih tergolong tinggi untuk kantung orang Indonesia kebanyakan. Alhasil bisnis-bisnis yang memiliki target pasar menengah keatas tumbuh subur di Instagram, sedangkan Twitter dan Facebook didominasi oleh bisnis rumahan dengan target pasar menengah maupun menengah ke bawah.

Lagi-lagi, berbisnis baik secara offline maupun online butuh kreativitas dan inovasi. Apabila produk Anda adalah yang pertama di jenisnya maupun cukup unik tentunya pelanggan akan berdatangan. Bahkan, mungkin para selebritis maupun selebgram dengan senang hati mempromosikan produk Anda karena benar-benar menyukainya.

Ditulis oleh: Nadia Vetta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here