Jakarta dan Bali, Kota Mode Dunia

0
81

Indonesia mulai diperhitungkan sebagai salah satu negara kiblat mode dunia. Belum lama ini, situs resmi Global Language Monitor (GLM) pada tahun 2014 memasukkan Jakarta di dalam daftar kota mode dunia. Selain itu, Bali yang dua tahun berturut-turut berada dalam daftar, juga naik peringkat. Bali terus menerus masuk dalam daftar GLM sebagai kota mode tropis. Sebelumnya Bali menempati posisi ke- 39 dan pada tahun ini berada di peringkat ke-25 dalam kategori Fashion Capital for Swimwear.

Kini Indonesia punya Jakarta dan Bali yang termasuk dalam daftar kota mode terbaik di dunia. Saat ini Jakarta punya ajang tahunan, yakni Jakarta Fashion Week dan Indonesia Fashion Week . Pekan mode tersebut menampilkan koleksi desainer Indonesia dan luar negeri.

Setiap tahunnya Global Language Monitor (GLM), penggagas top survei berdasarkan kata kunci di internet, mengumumkan daftar kota-kota mode terbaik dunia. Tahun 2013 peringkat pertama diraih New York yang berhasil mengalahkan Paris, London, dan Milan. “Semua hal baru dari New York mengambil esensi New York dalam selera mode, dan akhirnya mendominasi daftar Top Fashion Buzzword pada 2014,” kata Rebecca Roman, fashion director yang berbasis di Manhattan untuk GLM.

Roman menuturkan, kini akan sulit untuk memikirkan tren global yang tidak memiliki keberadaan yang kuat jika asal-usulnya dari Kota New York. Adapun selain Bali, kota-kota mode di Asia yang diprediksi sebagai kota mode terbaik adalah Shanghai, Hong Kong, Singapura, dan Kuala Lumpur.

Sementara, beberapa kota baru yang masuk dalam liga mode dunia adalah Auckland, Beirut, dan Tel Aviv. GLM mendata kota-kota mode tersebut melalui sistem teknologi Narrative Tracking, yang menganalisis dunia maya termasuk media blog, sebanyak 300.000 media cetak dan elektronik di seluruh dunia, serta media sosial termasuk Twitter dan Instagram.

Peringkat ditentukan berdasarkan jumlah pencarian dan frekuensi pemberitaan di media global. Kota mode dicirikan sebagai sebuah kota yang menjadi pusat utama industri mode, kegiatannya meliputi desain mode, produksi, ritel produk-produk mode, ajang mode seperti pekan mode dan penghargaan mode, berikut pameran dan aktivitas perdagangan yang terkait dengan mode yang menghasilkan pemasukan yang signifikan bagi kota tersebut.

Kota mode umumnya memiliki subbudaya kuat yang mampu memberikan inspirasi dan menjadi tren, tidak hanya bagi kalangan profesional mode, namun juga bagi warga kota yang bersangkutan. Kota mode biasanya juga memiliki bisnis mode yang maju, hiburan, budaya, dan aktivitas rekreasi yang signifikan dan diakui secara internasional atas identitasnya yang unik dan kuat. Saat ini ada empat kota yang dianggap sebagai pusat mode dunia dan dikenal dengan julukan “empat besar”, yaitu London, Milan, New York, dan Paris.

Masuknya Bali menjadi salah satu kota mode dunia, tentunya menjadi angin segar bagi pelaku industri mode Tanah Air. Terkait dengan posisi Bali sebagai salah satu kota mode dunia, desainer Indonesia yang memulai kariernya di Bali, Ali Charisma, sempat mengatakan bahwa ranah mode global bisa dituju para desainer dengan melebarkan sayap kariernya dan membuka butik di Bali.

Menurut Ali, desainer yang ingin mencoba menggarap pasar internasional bisa belajar menyerap tren dan selera mode internasional dengan membuka butik di Bali. Pria yang sempat menjabat sebagai Head of Indonesian Fashion Designer for Bali Province ini menyebutkan desainer internasional sudah banyak yang akhirnya membuka butik bridal karena melihat kebutuhan ekspatriat maupun orang Indonesia yang ingin menikah di Bali.

“Di sebuah kawasan di Bali, ada satu tempat khusus yang merupakan butik-butik desainer. Biasanya juga turis lokal dan asing mencari baju di sana, khusus untuk resort wear dan street wear,” sebut desainer yang rutin mengikuti Hong Kong Fashion Week ini. Meski ada potensi mode Indonesia menanjak terus dengan Bali dan Jakarta, tampaknya industri mode Tanah Air masih harus menghadapi tantangan besar.

Seperti yang kita ketahui, mulai tahun 2015 ini era persaingan bebas dan ASEAN Free Trade Area (AFTA) dimulai. Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Taruna K Kusmayadi mengatakan dari segi bisnis, yang sebenarnya merupakan tujuan utama penyelenggaraan acara pekan mode, tampak masih belum memberikan angin segar.

“Ketika mengadakan fashion show, bahkan mengikuti fashion week, para pelaku mode terutama desainer di Tanah Air, masih berkutat pada persoalan menciptakan image dan melakukan branding tanpa dibarengi dengan persiapan produksi serta distribusi secara ritel yang justru menjadi tolak ukur keberhasilan suatu bisnis mode,” katanya dalam forum group discussion (FGD) Indonesia Fashion Week, beberapa waktu silam.

Sumber: koran-sindo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here