Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Masih Termoderasi

0
117

 

BEIJING – Kinerja perekonomian Tiongkok kembali kehilangan akselerasi di pengujung tahun lalu menyusul pelambatan pertumbuhan industri manufaktur akibat dampak pelemahan konsumsi domestik dan pemintaan ekspor. Karena itu, perekonomian dinilai membutuhkan stimulus lebih besar guna mengatasi tren pelambatan.

 

Badan Statistis Nasional Tiongkok (NBS), Kamis (1/1), melaporkan indeks belanja perusahaan (PMI) sektor manufaktur pada Desember lalu mencapai 50,1 poin, lebih rendah ketimbang catatan bulan sebelumnya di level 50,3 poin. Capaian ini sekaligus menjadi level terendah sepanjang 2014. “Momentum pertumbuhan masih lemah,” menurut pernyataan NBS dalam laporannya tersebut.

 

Meski demikian, kinerja sektor manufaktur Tiongkok masih berada pada level pertumbuhan. Dalam pembacaan indeks tersebut, PMI di atas 50 poin mengindikasikan adanya pertumbuhan, sementara di bawah level tersebut menunjukkan kinerja sektor manufaktur berada di zona kontraksi. Selama ini, PMI manufaktur yang diukur dari aktivitas pabrik menjadi rujukan penting bagi kesehatan perekonomian Tiongkok.

 

Sebelumnya, hasil survei bank yang berbasis di London, Inggris, Hong Kong Shanghai Banking Corporation (HSBC), menunjukkan PMI manufaktur Tiongkok pada Desember 2014 turun menjadi 49,6 poin dari catatan bulan sebelumnya di level 50,0 poin.

 

“Penurunan data PMI manufatur Tiongkok, baik versi pemerintah dan HSBC, terutama di sektor yang berhubungan dengan industri properti, masih terjadi akibat penurunan permintaan domestik,” kata Li-Gang Liu dan Hao Zhou, ekonom dari ANZ Research, dalam catatan risetnya kepada klien. Meski demikian, keduanya melihat dalam beberapa data, sejumlah indikator aktivitas riil menujukkan tren percepatan pada Desember 2014. Menurut mereka, percepatan ini digerakkan oleh kebijakan fiskal dan moneter yang proaktif.

 

Pelonggaran Kebijakan

 

Pada November tahun lalu, bank sentral Tiongkok atau People’s Bank of China (PBoC) secara mengejutkan menurunkan suku bunga acuan untuk kali pertama selama kurun lebih dari dua tahun terakhir. PBoC menurunkan bunga deposito bertenor setahun sebesar 25 basis poin menjadi 2,75 persen dan bunga pinjaman berjangka setahun sebesar 40 basis poin menjadi 5,6 persen.

 

Pelonggaran ini dimaksudkan untuk membantu memacu kinerja pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Keputusan penurunan bunga acuan ini diambil setelah serangkaian data statistis ekonomi dinilai cukup mengecewakan, terutama stagnasi aktivitas di sektor manufaktur.

 

Namun, sejumlah analis menilai kebijakan tersebut belum efektif memacu kinerja pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Mereka mendesak para pembuat kebijakan di Tiongkok memperluas kembali program stimulusnya.

 

Banyak pengamat ekonomi mengharapkan pemangkasan kembali bunga acuan bersamaan dengan kebijakan pemerintah menurunkan ketetapan rasio kecukupan modal perbankan (RRR) secepatnya tahun ini. Dengan demikian, bank diharapkan dapat meningkatkan alokasi kredit dengan bunga cukup menarik, terutama bagi usaha kecil dan menengah (UKM).

 

Sumber: koran-jakarta.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here