Perhatian Sektor UKM Terus Ditingkatkan

0
476

 

JOGJA – Tahun ini, Bank Pembangunan Daerah (BPD) DIJ berusia 53 tahun. Pada usia setengah abad lebih ini, BPD DIJ semakin menegaskan komitmen-nya turut andil dalam pembangu-nan perekonomian di DIJ. Bank ini juga siap menjadi tuan rumah di negeri sendiri.Komitmen ini mendapat sam-butan positif dari pelaku usaha. Khususnya di sektor usaha kecil menengah (UKM) yang selama ini jadi tulang punggung per-ekonomian DIJ

 

Ketua Dewan Kerajinan Na-sional Daerah (Dekranasda) Kota Jogja Tri Kirana Muslidatun mengapresiasi tekat BPD DIJ menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sebagai bank yang ter-lahir dari rahim Jogjakarta, BPD DIJ harus bisa menjadi yang terdepan dalam memberikan pelayanan perbankan di Jogja-karta, khususnya pada pelaku UKM.Sebagai ketua Dekranasda yang menaungi perajin di Kota Jogja, ia berharap BPD DIJ lebih me-layani perajin kecil atau UMKM. Karena di Jogja, jumlah perajin dan pelaku UMKM paling banyak.”BPD DIJ sebagai bank milik daerah harus bisa meningkatkan perannya bagi pengusaha mikro. Kalau pengusaha menengah, saya sudah melihat mereka ter-penuhi dengan baik. Karena, mereka memenuhi syarat per-bankan,” tegas Tri Kirana di rumah dinasnya, baru-baru ini.

 

Bagi pengusaha mikro, selama ini masih ada kendala melaku-kan kredit perbankan. Sebab, sejumlah perajin yang tergabung dalam Dekranasda Jogja, ada yang tinggal di tanah Magersari. Karenanya, mereka tak memi-liki sertifikat.Selain itu, pendapatan para perajin tidak bulanan. Para pe-rajin kecil mendapatkan pemasu-kan berdasarkan order yang datang. Akibatnya, perajin kecil tidak terbiasa dengan sistem perbankan, di mana sistem pem-bayarannya sangat baku. Tak heran, banyak perajin kesulitan mendapatkan modal dari bank. Pilihannya, mereka meminjam pada rentenir. ”Harus ada suatu pengembangan bagi BPD DIJ untuk bisa jemput bola bagi para perajin kecil,” katanya.

 

Tri Kirana mengatakan, agar mampu bersaing dengan bank lain yang konsern pada UKM, BDP DIJ harus meningkatkan pendampingan terhadap pelaku usaha UKM yang ada di Jogja-karta. Koordinasi dengan orga-nisasi UKM, seperti dekranas harus dilakukan, agar para pe-laku UKM benar-benar merasa-kan kehadiran BPD DIJ.Tri Kirana menjelaskan, jum-lah perajin di Jogja yang meman-faatkan perbankan dalam me-ningkatkan modal usaha ter bilang kecil. ”Jumlahnya masih di bawah 30 persen,” ungkapnya.

 

Persoalannya, para pengrajin belum familiar dengan aturan perbankan. Ia berharap sosiali-sasi aturan kredit perbankan lebih halus dan mengena. Peluang inilah yang bisa dimanfaatkan BPD DIJ sebagai bank yang me-miliki karakter Jogjakarta.

 

Tak kalah penting, tegas Tri Kirana, BPD DIJ harus menjadi yang terdepan dalam menya-darkan kebiasaan menabung pada masyarkat. Pola menabung bagi perajin, tidak hanya menga-jarkan kredit. Menurutnya, kebiasaan mena-bung masyarakat masih rendah. Ini dibuktikan berdasar pen-dekatan yang dilakukan kader ibu-ibu PKK Kota Jogja. Dari 45 kelurahan yang didekati, hanya 3 keluarahan saja yang ma-syarakatnya tergerak mau mena-bung. ”Masyarakat masih kon-sumtif. Biasa kredit untuk ke-perluan konsumtif,” katanya.

 

Tri Kirana mengatakan, ke-nyamanan menabung di BPD DIJ dirasakan sejak lama. Saat merintis usaha, ia menjadi mitra BPD DIJ sejak 1992. ”BPD merupakan bank yang simpel. Secara bunga dan kemudahan sudah dirasakan kemudahan-nya,” terangnya.

 

Sumber: Radarjogja.co.id

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here