Konektivitas Jadi Isu ASEAN Jelang MEA 2015

0
137

 

Dalam merespons perkembangan teknologi yang kian dinamis, inovasi menjadi kata kunci yang mesti dilakukan bagi setiap negara. Tujuannya apalagi kalau bukan mempertahankan positioning-nya di dalam lanskap global. Bahkan, inovasi juga mesti dilakukan bagi negara superpower sekalipun. Sebab, perkembangan zaman yang bergerak maju ibarat medan perang yang tak pernah usai. Lengah sedikit, negara itu bisa dicap “ketinggalan zaman”.

 

Lantas, dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 (MEA), inovasi apa yang telah dipersiapkan oleh masing-masing negara anggota? Dalam sesi panel Change@Scale: Think New On Asia, panelis dari Tiongkok, Malaysia, Kamboja, Singapura, Filipina, dan Thailand, masing-masing mengutarakan inovasi tersukses yang terjadi di negaranya. Selama lima menit, mereka satu per satu memaparkan satu contoh kepada audiens yang hadir dalam acara Kellogg Innovation Network ASEAN Forum ke-5, di Ritz-Carlton, Pacific Place, Jakarta, Rabu, (10/11/2014).

 

Salah satu panelis tersebut adalah Li Wei, seorang mahasiswa MBA di Solbridge-Meiji University, Seoul-Tokyo. Mewakili negeri Tiongkok, lelaki muda ini mengatakan  negerinya telah melakukan inovasi besar dalam hal Internet. Li Wei bilang, populasi Internet di Tiongkok akan mampu mencapai 730 juta dalam dua tahun ke depan atau hampir dua kali lipat dari jumlah penduduk Amerika Serikat. “Tiongkok percaya masa depan dunia ada di Internet. Kami hanya menggunakan benefit dari Internet dan membuang yang tidak diperlukan,” papar Li.

 

Memang kebijakan Internet di Negeri Tirai Bambu tersebut begitu ketat. Tak heran banyak situs asing yang berbau Amerika Serika sulit menembus “tembok raksasa” kebijakan Pemerintah Tiongkok. Sebut saja Facebook, Twitter, YouTube, dan Blogspot. Alasannya, pemerintah Tiongkok lebih mendorong ekosistem lokal agar dapat mengontrol aktivitas warganya. Dus, situs lokal pun menjadi primadona di daratan Tiongkok, seperti Weibo, Alibaba, dan Baidu.

 

“Selama setahun, belanja online di Tiongkok mencapai US$ 9,3 triliun. Sedangkan belanja fisiknya US$ 9,1 triliun. Jelas ini merupakan waktu yang tepat bagi Tiongkok untuk berinovasi di bidang Internet dan digital,” tuturnya.

 

Jika Tiongkok sukses membangun inovasi ekosistem Internet-nya, Malaysia malah mengalami problem dalam inovasi. Yap Mew Sang, President Elect International Council of SMEs & Entrepreneurship Malaysia mengatakan dengan diberlakukannya MEA nanti, seharusnya berembus angin segar bagi pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM). Namun nyatanya, MEA menghadirkan masalah bagi UKM di Negeri Jiran itu.

 

“Di Malaysia, ada 610.000 UKM, 70% adalah mikrobisnis yang tidak melek teknologi. Ini menjadi tantangan kami saat ini. Alasannya, UKM di Malaysia menguasai 60% total usaha di Malaysia,” ungkap Yap.

 

Bagi Yap, konektivitas menjadi kunci kesuksesan MEA. Dengan bahasa, budaya, dan tingkat perekonomian yang berbeda, konektivitas menjadi perangkat yang mampu mengintegrasikan seluruh negara anggota ASEAN. Agar pelaku UKM di setiap negara ASEAN dapat saling terhubung, diperlukan teknologi yang mampu mengakomodasi hal tersebut.

 

“Saya berharap ada satu teknologi yang mampu mempermudah UKM dalam menyerap bahasa satu sama lain. Dengan demikian, UKM mampu bersinergi secara langsung,” kata Yap.

 

Sumber: The-marketeers.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here