Mendulang Rupiah dari Limbah di Rumah Kreatif Hj. Elviana, R. Anie

0
156

Sampah rumah tangga seperti kantong plastik, botol bekas, pecahan kaca, kaleng bekas, dan beragam sampah anorganik maupun organik lainnya, bagi kebanyakan orang cenderung dilihat tak bernilai. Tapi di tangan Elviana, limbah tersebut bernilai seni dan ekonomi yang tinggi.

 

Elviana-menunjukkan-hasil-k

“Alhamdulillah, saya lagi ikut pameran produk kerajinan di JCC (Jakarta Convention Centre, red).” Begitu kalimat yang terucap dari wanita paruh baya di ujung telepon saat dihubungi, Sabtu (29/11/2014) lalu.

 

Dialah Elviana, R. Anie, pemilik Rumah Kreatif di Tiban Indah Blok S No. 61, Sekupang, Batam, Kepulauan Riau. Rupanya Elviana sedang berada di Jakarta mewakili Pemerintah Kota Batam di Pameran Produk Kerajinan dan Interior Indonesia yang diorganisir oleh Mediatama Bina Kreasi. Pameran ini digelar dari 26-30 November 2014 yang diikuti hampir seluruh kabupaten kota se-Indonesia.

 

“Saya bawa hasil kerajinan dari limbah cangkang kerang dan berbagai hasil kerajinan yang bahan dasarnya limbah,” ujarnya lagi.

 

Wanita ini pun memberitahukan pada Desember 2014 ini akan kembali menggelar pameran tunggal produk kerajinan dari Rumah Kreatif miliknya, dalam sebuah acara yang digelar oleh Kementerian Pekerjaan Umum di Hotel Harmoni One, Batam Centre, Batam. Di acara itu juga, ia akan menunjukkan cara mengolah limbah menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi.

 

Sebelumnya, saat ditemui di Rumah Kreatif-nya, beberapa waktu lalu, Elviana tampak sibuk menyusun cangkang gonggong (sejenis keong laut, red) yang sudah dipotong-potong dalam berbagai bentuk, sudut, dan ukuran ke sebuah triplek tipis. Jemarinya bergerak lincah menata potongan-potongan itu. Hanya hitungan menit, terbentuklah rangkaian bunga yang indah dari cangkang hewan laut itu.

 

Agar kokoh, rangkaian cangkang gonggong itu direkatkan dengan lem khusus. Bentuknya yang alami dan unik, menjadi daya tarik tersendiri. “Kadang-kadang saya bongkar lagi kalau bentuknya kurang indah,” ujar Elviana.

 

Tidak hanya merangkai potongan cangkang hewan laut dari berbagai jenis menjadi hiasan dinding dengan motif bunga, Elvina juga bisa menghadirkan foto, cermin, dan perabotan rumah tangga lainnya yang bingkainya dihiasi cangkang hewan laut yang dirangkai secara unik.

 

Keindahan dan keunikannya itu semakin terasa jika yang melihatnya pecinta seni. “Merangkai seperti ini butuh kreativitas, imajinasi, dan seni yang tinggi,” kata Elviana sambil menunjukkan beberapa handycraft dan souvenir hasil sentuhan tangannya.

 

Di galerinya yang berukuran 3 x 4 meter persegi di teras rumahnya itu, memang banyak sekali jenis dan bentuk kerajinan tangan. Menariknya, hampir semua bahan bakunya dari limbah. Elviana mengubahnya menjadi bernilai seni.

 

Ada banyak rangkaian bunga yang terbuat dari cangkang hewan laut dan plastik kresek bekas yang diolah sedemikian rupa hingga menjadi indah. Bahkan tangkai buah kurma yang sepintas tak memiliki nilai apa-apa, mampu dikreasi oleh Elviana menjadi kerajinan yang unik.

 

Bahkan botol-botol plastik maupun dari kaca, bisa dibuat menjadi beragam produk kerajinan tangan. Termasuk pecahan beling dan pecahan keramik sekalipun, “disulap” menjadi kerajinan tangan yang unik.

 

“Ini botol bekas kecap, touchu, bekas parfum sudah saya bersihkan. Limbah-limbah ini sebentar lagi akan menjadi souvenir yang unik dan indah,” ujarnya sambil memperlihatkan botol-botol bekas itu.

 

Di galerinya itu juga banyak botol-botol bekas dari kaca yang dilukis hingga menjadi indah. Begitupun dengan kantong plastik bekas yang sudah dibersihkan. “Bayangkan, kalau seluruh warga kita itu kreatif, bisa mengolah kantong plastik menjadi produk kerajinan yang indah, maka kita tidak dipusingkan lagi sampah yang susah terurai itu, tanah dan air kita tak tercemar lagi,” ujarnya.

 

Memang tidak melulu berbahan baku limbah, ada juga beberapa kerajinan tangan yang bahan bakunya bukan limbah. Seperti Bros, bahan bakunya dari batu alam yang telah diolah. Elviana membeli bahan baku itu dari luar negeri secara online.

 

Ada juga sepatu yang dilukis. Bahkan mouse komputer atau laptop juga dihias sedemikian rupa, sehingga tampilannya lebih unik dan indah tanpa mengurangi fungsinya. Baik mouse yang menggunakan kabel maupun nirkabel.

 

“Kadang-kadang ada permintaan khusus, namanya diukir di mouse itu supaya tak tertukar dengan mouse milik temannya di kantor,” kata Elviana.

 

Usaha kerajinan dengan memanfaatkan limbah sebagai bahan baku utama mulai dirintis Elviana sejak Februari 2010. Usahanya itu berawal dari hobinya melukis.

 

Hobi melukis itu telah muncul sejak Elviana duduk di bangku sekolah menengah atas. Namun tak ia perdalam di sekolah seni. Elviana lebih memilih kuliah di jurusan teknik sipil di Universitas Riau (UNRI).

 

Setelah tamat dari bangku kuliah, Elviana malah memilih menjadi guru di Sekolah Teknik Menengah (STM) Negeri Pekanbaru. Bersama suaminya ia kemudian pindah ke Batam. Di Batam, ibu satu anak ini bergabung di PT McDermott, perusahaan yang memproduksi peralatan tambang lepas pantai. Cukup lama ia bekerja di perusahaan asal Amerika itu.

 

“Tiga belas tahun empat bulan,” kata wanita yang juga pernah mendapat beasiswa dan kuliah di Politeknik Mekanik Swiss, itu. “Sudah 12 tahun saya keluar dari McDermott.”

 

Setelah keluar dari McDermott, istri Sudiono, ini sempat ikut proyek Australia selama tiga tahun. Setelah itu, ia menunaikan ibadah haji tahun 2008. Saat itulah ia terfikir sekembali dari Tanah Suci, ia akan menjadi pengangguran.

 

“Saya berdoa kepada Allah agar tetap berguna bagi orang banyak,” katanya.

 

Sekembali dari Mekah, Elviana terus menekuni hobinya melukis. Waktu luangnya selalu ia manfaatkan untuk melukis. Lalu pada Februari 2010, ia membuka Rumah Kreatif. Bakatnya melukis ia kembangkan dengan menjadikan botol bekas sebagai medium.

 

Kemudian ibunda Elgi Rachmadina ini mencoba melukis di sepatu. Karakter tokoh-tokoh kartun ia hadirkan di sepatu itu. Seperti Spongebob, Mickey Mouse, dan tokoh kartun lainnya.

 

Sepatu hasil lukisannya itu awalnya hanya dipakai anaknya, Elgi. “Dari situ teman-temannya banyak yang suka. Lama-lama makin banyak pesanan,” ujar Elviana.

 

Sepatu hasil lukisan Elviana ini juga dipajang di galerinya di Tiban Indah.

 

Dari melukis sepatu, Elviana memberanikan diri membuat kreasi dari botol bekas. Kebetulan saat itu ia menyukai minuman botol. Kemudian berlanjut ke bahan baku lainnya.

 

Semakin hari, hasil kerajinan tangan Elviana semakin bertambah dan beragam. Maka pada tahun yang sama (2010), bersama dua rekannya dan dibantu lurah yang saat itu dijabat Dewi Rupianti, Elviana ikut pameran di Mega Mall Batam Centre.

 

“Saat itu kami menyewa stan kecil. Biayanya sebagian dibantu ibu lurah” kenangnya.

 

Saat pameran itulah, karyanya laris manis. Elviana makin rajin ikut pameran. Bahkan tak hanya di Batam, sampai ke luar Batam. Kadang ke Jakarta, Surabaya, Bandung, dan berbagai kota besar lainnya di Indonesia.

 

“Daripada saya diam di rumah menghabiskan masa senja, mending saya keliling Indonesia untuk berbagi ilmu kreatif,” ujarnya, lantas tertawa.

 

Dari pameran itu karnyanya kemudian dikenal seantero Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Karyanya juga pernah diborong oleh orang Malaysia.

 

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pun kepicut dengan upaya Elviana memanfaatkan limbah menjadi bernilai ekonomi dan seni yang tinggi. Beberapa kali tim dari Kementerian PU datang ke galerinya. Bahkan pada 2011, ia diundang Kementerian PU di Jakarta untuk presentasi pemanfaatan limbah menjadi produk kerajinan bernilai seni dan ekonomi tinggi.

 

“Saya diminta PU untuk mengajarkan ke yang lain,” katanya. Setelah itu, ia menjadi mitra PU. Dalam beberapa acara PU, Elviana selalu diajak sebagai pembicara sekaligus berbagi ilmu mengolah limbah menjadi produk kerajinan.

 

Tidak hanya tim dari Kementerian PU, Elviana juga mengajarkan memanfaatkan limbah menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi dan seni yang tinggi kepada berbagai kalangan. Antara lain, anak-anak di beberapa panti asuhan. Salah satunya, panti asuhan Permate, binaan PT Telkom, tempat suaminya bekerja.

 

Wanita yang juga sering mengisi acara anak-anak di RRI Batam ini juga mengajarkan cara membuat kerajinan tangan itu pada narapidana di Rutan Baloi-Batam, ibu-ibu PKK, anak jalanan, lansia, hingga ke beberapa sekolah di Batam.

 

Bahkan, pada 15 Maret 2013 lalu, Elviana memberi pelatihan kerajinan mozaik pada 13 istri-istri pengusaha dari sembilan negara di Palm Spring, Nongsa. “Mereka sangat antusias sekali belajar dan sebuah kebahagiaan bagi saya bisa berbagi ilmu,” kata Elviana.

 

ekspat Mozaik sebenarnya seni dan budaya yang lahir di Eropa. Namun istri-istri pengusaha tersebut tertarik belajar ke Indonesia, khususnya ke Batam. Mereka menilai hasil karya mozaik Indonesia lebih halus dan bernilai seni tinggi. Itu sebabnya mereka tertarik belajar.

 

“Mereka sangat menghargai dan mengerti nilai sebuah seni. Saya senang bisa berbagai dengan mereka,” kata Elviana.

 

Semakin hari, semakin banyak pencinta seni yang datang ke galerinya. Pundi-pundi rupiah Elviana pun terus bertambah. Setiap bulannya, ia bisa mendulang rupiah Rp 8 juta hingga Rp 10 juta.

 

Angka itu memang belum terbilang besar, namun bagi Elviana, bisa berbagai ilmu mengolah limbah menjadi bernilai ekonomis dan seni yang tinggi, adalah sebuah kebahagiaan yang tak bisa dinilai dengan uang.

 

Elviana memilih cita-cita yang tinggi. Ia punya impian memiliki galeri yang lebih besar yang tak hanya menjadi tempat memajang dan menjual hasil karyanya, tapi lengkap dengan tempat wisatawan atau siapa saja yang mau belajar membuat kerajinan, bisa datang ke galeri itu. “Insya Allah, mudah-mudahan tercapai,” ujarnya.

 

Sumber: Batampos.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here